Bergeraklah, Karena Diam Itu Mematikan

Mengajar fisika di SMK memiliki tantangan sendiri, karena anak SMK lebih ke sisi real teknis. Akan sangat sia-sia jika hanya menitikberatkan teori. Mengajar fisika bukan sekedar teori saja, ada sebuah “kehidupan” di situ. Yah … sebuah kebermaknaan yang sangat indah jika kita mau mendalaminya dan mengajarkannya pada anak-anak. Ilmu fisika mengajarkan tentang toleransi, kesabaran, dan makna kehidupan lainnya.

Sebagai seorang Guru, Ayah dari anak-anakku di sekolah, sudah berapa macam kemirisan yang muncul selama aku mendidik mereka. Apa yang salah dengan fisika? Apa yang salah dengan materi yang Ayah ajarkan? Apakah ini membuat kalian tidak menyukai fisika? Ataukah karena Ayah yang mengajarnya kurang kreatif? Ataukah karena tidak ada makna dalam pembelajaran fisika? Pertanyaan itu yang bertubi-tubi menghantui pikiran ku, ingin rasanya memiliki kelas yang sebagian besar dihabiskan untuk mengupas makna makna yang tersirat dalam pelajaran fisika. Ini adalah sedikit tulisan tentang makna kehidupan yang ada dalam fisika, yang penulis ajarkan kepada anak-anak dikelas, yang setidaknya membuat mereka mulai menggandrungi fisika. Akhirnya sebagian besar anak-anakku memanggilku “Pak Smile, motivator dan inspirator”, sebuah kesenangan yang tidak terbayarkan tentunya bagi penulis.

Entahmau cerita darimana, intinya inilah curahan hati saya sebagai seorang guru SMK. Sebuah bentuk keprihatinan guru ketika melihat pelajaran hanya diajarkan sekedar materi keduniaannya saja, yang sedikit menyentuh sisi kemanusiaannya. Kurikulum yang terbaru mendorong guru untuk memunculkan pendidikan karakter, pendidikan yang juga membentuk sisi kemanusiaan pada diri anak didik. Semoga lewat tulisan ini, apa yang penulis sampaikan sedikit menuntaskan rasa kekecewaan akan materi fisika yang terlalu rumit. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik melalui tadabur kita semua kepada alam ini, alam yang begitu indah ketika kita menyingkirkan sejenak rumus-rumuskaku yang ada di benak diri kita. Ok, langsung aja kali ini, kita akan belajar mengenai Relativitas Einstein terutama mengenai dilatasi waktu.

Jika ada sebuah obyek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka rumusan Newton sudah tidak berlaku di situ. Melainkan rumusan Einstein-lah yang bekerja. Benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan memiliki umur yang lebih muda dibandingkan dengan benda yang hanya diam saja. Ini terjadi karena waktu akan melambat dalam ruang orang yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Bukankah ini pelajaran bisa kita petik dari pelajaran mengenai waktu? Karena diam itu menipu, diam itu akan memperlemah indera yang kita miliki, memang dengan diam kita tidak pernah merasakan terjatuh, kita tak pernah merasakan apa itu rasa sakit, yang ada hanyalah keadaan statis tanpa makna. Memang dengan diam kita tidak mengeluarkan energi, tapi pada hakikatnya kita sedang menjadi bom bagi diri kita sendiri.

Lihat saja elektron yang ada di atom, makhluk sekecil itu saja bergerak terus-menerus. Apa jadinya kalau dia diam? Tubuh ini akan hancur, karena tubuh kita adalah bagian dari atom. Merenung dan berdiam diri boleh-boleh saja, asalkan jangan terlalu lama. Evaluasi diri muncul dari perenungan. Lihatlah jantung kita apakah pernah dia lelah untuk berdetak? Lihatlah nafas kita, apakah dia pernah lelah bernafas? Lihat bagaimana alam mengajari kita tentang arti makna dalam sebuah gerak. Sumber pembelajaran itu justru ada di dalam diri kita sendiri, tapi apakah pernah kita memikirkan itu semua?

(Yaitu) orang-orang yang berdzikir mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran: 191).

Lihat bagaimana Al Qur’an memberi petunjuk kita dalam menjalani hidup ini. Dengan memperhatikan apa yang ada di langit dan bumi (termasuk badan kita), kita dapat mengambil hikmah dari pergerakan yang ada di diri ini. Kalau mau ditelisik lebih jauh, lihatlah muamalah dalam ibadah. Bukankah hampir semua ibadah melalui pergerakan. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa pergerakan menjadi hal yang mutlak untuk dilakukan, serta menjadi eksistensi individu. Masihkah kita hanya berdiam diri melihat masalah yang mendera kita? Masihkah kita hanya bersikap pasrah yang pasif? Bergeraklah menuju kepasrahan yang aktif, bukan kepasrahan yang pasif. Nah, lewat teori relativitas ini kita diajari untuk menjadi manusia yang senantiasa muda, karena pergerakannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan sekitarnya.

Penulis jadi teringat akan besaran dalam fisika yaitu skalar dan vektor. Skalar merupakan besaran yang mempunyai besar saja, sedangkan vektor mempunyai besar dan arah. Kiranya ini tepat untuk menggambarkan orang orang yang pernah penulis temui. Mereka mereka yang mempunyai motivasi kurang, tidak punya visi ke depan penulis analogikan sebagai besaran skalar. Kenapa bisa demikian?Mari kita telisik lebih jauh.

Manusia dilahirkan dengan membawa potensi yang luar biasa, tetapi kenapa mereka merasa tidak bisa menghadapi masalah-masalah yang sedang menghampiri mereka dan akhirnya menjadi malas. Menurut orang-orang psikologi, malas dikarenakan mereka tidak punya tujuan hidup yang jelas jadi mereka kebingungan dalam menetukkan langkah hidup mereka. Jadi orang-orang ini mempunyai potensi (kuantitas besar) tetapi tidak mempunyai tujuan (arah) hidup. Kalau kita bandingkan dengan besaran skalar, maka orang orang bertipe ini masuk dalam besaran skalar, besaran yang punya nilai (potensi) tetapi tidak mempunyai arah (tujuan hidup).

Sebaliknya, orang yang sadar dirinya dibekali potensi dari Tuhan kemudian menggunakan potensi itu untuk mewujudkan mimpinya. Itulah orang-orang vektor, orang yang memiliki potensi dan mempunyai tujuan hidup yang jelas. Dalam hati penulis bergumam, “jadilah vektor, jangan skalar”.

Ada suatu kejadian yang sangat berkesan saat mengajar materi tekanan. Saat itulah anak-anak mulai menyeletuk “Pak Wakhyudi Golden Way”, mungkin sekedar kalimat spontan karena makna kehidupan yang penulis ajarkan kepada anak-anak yang sama sekali mereka tidak menyangka bahwa alam juga mengajari mereka arti kearifan, “TEKANAN, SEBUAH BENTUK KEARIFAN ALAM”.

p-sama-dengan-f-per-a

P = Tekanan
F = Gaya (Dorongan/Tarikan)
A = Luas Penampang

Rumus di atas adalah merupakan hukum yang mengajarkan seseorang untuk berlapang dada. Dan persamaan di atas merupakan informasi yang dapat digunakan oleh orang-orang yang sedang bersedih karena cobaan yang begitu berat. Seorang Pak Tua yang bijak bestari pernah mengajak seorang pemuda yang sedang mengalami stress. Ia mengajak sang pemuda menuju ke tepian sungai, mencoba merenungi pelajaran yang diberikan oleh alam.

Pak Tua : Nak, cobalah kau ambilkan gelas dan garam yang ada di tas ku.
Pemuda tersebut akhirnya mengambilkan apa yang dipesankan oleh sang Bijak bestari.
Pak Tua : Cobalah kau ambil air sungai itu, dan masukan airnya ke dalam gelas tersebut, kemudian isikan garam sebanyak dua sendok ke dalam gelas, kemudian minum.
Pemuda itupun mengikuti apa yang disuruh oleh sang Bijak bestari.
Pak Tua : Apa yang kau rasakan anak muda?
Pemuda : Asin, Pak Tua.
Pak Tua : Cobalah kau tebarkan garam yang tersisa (satu kg) ke dalam sungai, dan rasakan air sungai tersebut.
Pemuda : Tawar, Pak Tua.
Pak Tua : Apakah kamu merasakan garam dalam air sungai itu? Dapatkah kau ambil pelajaran dari kejadian ini?

Tekanan (P) dalam hidup akan terasa ringan ketika cobaan (F) yang datang kepadamu, kamu hadapi dengan hati (A) yang lapang. Namun cobaan akan terasa berat ketika menghadapi masalah, bekal kita adalah hati yang sempit (A kecil). Itu artinya tekanan, ada untuk membuat hatimu selalu hidup (dengan memberikan reaksi terhadap cobaan). Seandainya tidak ada tekanan kita tidak akan pernah merasakan hati yang lapang, tentunya setelah kita paham akan konsekuensi dari hukum tekanan yang ada dalam fisika.

Setelah penulis menyampaikan materi ini, seisi kelas bertepuk tangan. Alangkah indahnya jika pelajaran selalu berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, yang bisa membentuk kepribadian anak-anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan zaman yang tak menentu ini.

Post source : http://psmk.kemdikbud.go.id/konten/1864/bergeraklah-karena-diam-itu-mematikan

Related posts