SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan

Loading

Haedar Nashir : Beruswah Khasanah dalam Mendidik Anak

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Ahad (8/7) menghadiri peresmian gedung dakwah Muhammadiyah Pemalang.

Dalam tausyiahnya Haedar menyampaikan bahwa ada tiga hal yang akan menjadi amal bagi manusia yang tidak pernah terputus hingga Ia meninggal, yakni bersedekah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan.

Berkaitan dengan makna dari anak sholeh yang mendoakan, Haedar menuturkan bahwa perilaku anak dibangun dari keluarga.

Anak adalah permata hati dan tunas generasi yang akan menyambung jejak amal setiap orangtua. Kita perlu beruswah-khasanah dalam mendidik anak agar tumbuh jadi insan yang dewasa, cerdas, dan   berakhlak utama,” jelas Haedar.

Haedar menuturkan bahwa anak harus didik dengan cinta dan tanggungjawab yang mengandung nilai-nilai penuh makna, bukan dengan pola asuh penuh ancaman dan  kekerasan.

Anak-anak di manapun perlu keteladanan, mereka akan mewarisi pola orangtuanya laksana buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” imbuh Haedar.

Selain itu, memasuki perkembangan teknologi digital, Haedar berharap orangtua tidak melepas pengawasan dari pola tingkah anak dalam menggunakan teknologi digital.

Orangtua harus turut mengawasi perilaku anak ketika menggunakan alat teknologi digital, jangan sampai teknologi mengubah perilaku anak kea rah yang negatif, maka itu pengawasan dibutuhkan,” tegas Haedar.

Selepas menghadiri peresmian, Haedar turut hadir dalam silaturahim bersam jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang. Dalam kesempatan tersebut Haedar turut menyampaikan pesan kepada para pimpinan Muhammadiyah Pemalang untuk terus menghidupkan gerak dakwah.

Gerak dakwah Muhammadiyah harus terus hidup di Pemalang,” tutur Haedar.

Dalam berdakwah, Muhammadiyah  jangan hanya menjadi obyek, Muhammadiyah harus menjadi pelaku untuk berbuat.

Karena dakwah Muhammadiyah itu menyebarkan kebaikan, dan mencegah kemunkaran, jika tidak kita, siapa lagi,” jelas Haedar.

Diakhir, Haedar juga berpesan keapda para pimpinan untuk mempunyai ghirah dalam memimpin.

Para pimpinan harus miliki rasa ghirah dalam membangun organisasi, legowo dan mampu menerima masukan,” pungkas Haedar.

Ahmad Dahlan : Ideolog Islam Berkemajuan

Ahmad Dahlan merupakan pencetus pertama Ideologi Islam Berkemajuan. Hal ini dapat ditemukan pada statute Muhammadiyah pertama kali tahun 1912. Dalam frasa tujuan Muhammadiyah tercantum kata “memajukan” yaitu, “..Memajoekan hal Igama kepada anggauta-anggautanya” Menurut Haedar Nashir, (2011) Kyai Dahlan, seringkali mengungkapkan pentingnya berkemajuan. Menururtnya, KH. Ahmad Dahlan, sering menyebut agar menjadi Kyai yang maju.
Selain itu, lanjut Nashir mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk watak Islam Berkemajuan KH. Ahmad Dahlan yakni pikiran-pikiran dan langkah-langkah dalam meluruskan kiblat sampai mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pranata amaliah sosial yang bersifat modern. Bukti lain mendukung argumentasi bahwa Islam Berkemajuan sudah menjadi diskursus awal Muhammadiyah (era K.H. Ahmad Dahlan) adalah termaktubnya dalam suara Muhammadiyah awal tahun I nomor 2 halam 29 dalam huruf yang berbahasa jawa yang berarti, “..Karena menurut tuntunanan agama kita Islam, serta sesuai dengan kemauan zaman kemajuan”.
Islam Berkemajuan pada Muhammadiyah di masa KH. Ahmad Dahlan merupakan penerjemahan Islam atau obyektivikasi ajaran Islam dalam bentuk gerakan pencerahan, pemajuan, serta percerdasan kehidupan umat Islam. Asep Purnama Bahtiar (2011) menuliskan bahwa pada diri KH. Ahmad Dahlan, ideologi kemajuan itu menjadi modus penerjemahan nilai-nilai Islam atau obyektifikasi ajaran Islam ke dalam bentuk agenda pencerahan, pemajuan, dan pencerdasan kehidupan umat serta kerja-kerja kemanusiaan lainnya yang inklusif. Alam pikiran modern yang dibangun dalam Persyarikatan dengan nilai-nilai prinsipil yang dipegang kukuh. Dalam prinsip menghasilkan tradisi tindakan dan etos kerja sebagai wujud riil dan amal saleh dari ajaran Islam. Risalah pergerakan Muhammadiyah sumbunya adalah ideologi kemajuan atau Islam yang berkemajuan.
Watak ideologi Islam Berkemajuan Muhammmadiyah awal (KH. Ahmad Dahlan) berwatak inklusif. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ahmad Nur Fuad dalam penelitiaanya. Menurutnya, KH. Ahmad Dahlan dalam memahami agama bersikap terbuka dan toleran. Lanjut Nur Fuad mengatakan, KH. Ahmad Dahlan menghargai kenyataan bahwa bahwa pemikiran keagamaan tidaklah tunggal. Pemahaman terhadap keagamaan sangat beragam. Bukti keterbukaan KH. Ahmad Dahlan dapat dilihat dalam catatan dari muridnya K.R.H. Hajid sebagai berikut:
Orang yang mencari barang yang hak kebenaran itu perumpamaanya demikian: seumpama ada pertemuan antara orang Islam dan orang Kristen, yang beragama Islam Kitab Suci al-Quran dan beragama Kristen membawa Kitab Bybel, kemudian kedua kitab suci itu diletakkan di atas meja. Kemudian kedua orang tadi mengosongkan hatinya kembali kosong sebagaimana asal manusia tidak berkeyakinan apapun. Seterusnya bersama-sama mencari kebenaran, mencari tanda bukti yang menunjukkan kebenaran. Lagi pula pembicaraanya dengan baik, tidak ada kata kalah dan menang. Begitu seterusnya. Demikianlah kalau memang semua itu membutuhkan kebenaran. Akan tetapi sebagian besar dari manusia hanya menurut anggapan-anggapan saja, diputuskan sendiri. Mana kebiasaan yang milikinya dianggap benar dan menolak mentah-mentah terhadap lainnya yang bertentangan dengan miliknya.
Bagi KH. Ahmad Dahlan dalam memahami agama tidak boleh doktrinal atau berdasarkan asumsi semata tanpa argumentasi. Bagi KH. Ahmad Dahlan, sebuah keyakinan  tidak berangkat dari meyakini baru kemudian membangun argumentasi. Akan tetapi dalam menemukan keyakinan berangkat dari argumentasi. Argumentasi menjadi landasan menemukan keyakinan.
Dengan demikian, dalam menyusun argumentasi di sinilah pentingnya penggunaan akal. Sehingga bagi KH. Ahmad Dahlan, akal menjadi hal sangat penting dalam memahami ajaran agama. Al-quran dan Hadis, perlu ditelaah secara seksama dengan akal. Dalam tulisannya, Tali Pengiket Hidoep Manoesia, KH. Ahmad Dahlan membicarakan secara spesifik perihal watak, pendidikan, serta kesempurnaan akal.
Watak dasar dari akal bagi KH. Ahmad Dahlan adalah menerima pengetahuan dan memang pengetahuan itu menjadi kebutuhan dari akal. Perihal watak dasar akal, KH Ahmad Dahlan, mengumpamakan sebagai sebuah biji yang tertanam dalam bumi kemudian tumbuh menjadi pohon yang besar. Untuk tumbuh menjadi besar biji tersebut perlu untuk disirami. Begitupun akal agar dapat tumbuh dari potensialitas menuju aktual perlu disirami dengan pengetahuan.
Sedang untuk pendidikan akal, perlu diberikan ilmu mantiq (logika) “Sehabis habisnja pendidikannja akal, itoelah dengan ilmoe mantiq…” demikian menurut K.H Ahmad Dahlan yang tertulis dalam Tali Pengiket Hidoep Manoesia. Mantiq atau logika adalah ilmu yang mengajarkan perihal tata cara membangun proposisi dan argumentasi yang benar. Atau dalam pengertian yang biasa digunakan logika (mantiq) merupakan ilmu yang mengajarkan tata cara berpikir yang benar.
Perhatian khusus pada akal dalam memahami ajaran agama Islam oleh KH. Ahmad Dahlan, merupakan salah satu pondasi utama Islam Berkemajuan yang kemudian dirankum dengan istilah rasionalisme. Bila merujuk pada penelitian pustaka dan dokumen yang dilakukan oleh Hamzah.F (2016), tekait dasar pemikiran Islam Berkemajuan Muhammadiyah 1912-1923 (kurun hidup KH. Ahmad Dahlan). Menurutnya, ada tiga peta dasar Islam Berkemajuan yakni: Rasionalisme; Pragmatisme; dan Vernakularisasi.
Rasionalisme merupakan etos dasar Islam Berkemajuan yang terekspresikan secara menonjol dalam bentuk ijtihad. Rasionalisme adalah menegakkan kembali peran dan fungsi akal secara bebas dalam berijtihad. Untuk lebih lengkapnya ihwal ijtihad menurut Hamzah.
Dasar Islam Berkemajuan KH. Ahmad Dahlan yang kedua menurut Hamzah. F adalah pragmatisme. Pragmatisme di sini merujuk pada makna aslinya yakni sesuatu harus fungsional. Dengan demikian, Islam Berkemajuan adalah Islam harus terlibat dalam penyelesaian problem umat seperti kebodohan, kemiskinan, kekolotan dalam hal ini segala bentuk keterbelakangan.
Hal yang paling nyata atau konkrit pragmatisme dalam Muhammadiyah yakni KH. Ahmad Dahlan mendorong lahirnya sekolah-sekolah klasikal yang memadukan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Langkah ini, setidaknya merupakan kritik secara tidak langsung kepada model sekolah tradisional (pesantren) yang tidak terbuka kepada pengetahuan non agama. Sebab pengetahuan non agama cenderung dianggap kafir pada saat era KH Ahmad Dahlan. Sisi lain, kritik terhadap sekolah klasikal model kolonial yang minus pengetahuan agama. Sebab pengetahuan agama hal tidak penting dipelajari dalam sekolah.
Vernakularisasi merupakan ciri yang ketiga dasar Islam Berkamajuan Muhammadiyah awal. Vernakularisasi adalah upaya KH. Ahmad Dahlan mengkontekstualisasikan Islam dengan kebudayaan. Anggapan bahwa Muhamamadiyah merupakan gerakan Islam yang memberangus kebudayaan memestikan untuk ditinjau kembali. Mengutip Mitsuo Nakamura (peniliti Muhammadiyah) membantah bahwa Muhammadiyah dalam kasus pembaharuan di Jawa, bukan berjuang untuk melakukan eksklusi terhadap tradisi yang telah ada dan dilakonkan dalam masyarakat lokal.
Ahmad Najib Burhani mengemukakan bentuk Vernakularisasi KH. Ahmad Dahlan. Di antara bentuk tersebut: Pertama, aturan perilaku yakni di mana KH. Ahmad Dahlan sangat menghormati tata perilaku abdi dalem. KH. Ahmad Dahlan sowan ke Keraton untuk menemui Sultan dalam hal penentuan Ramadan dengan metode hisab.
Kedua, bahasa. KH. Ahmad Dahlan menganjurkan untuk melakukan penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa selain bahasa Arab. KH. Ahmad Dahlan mengambil posisi di antara perdebatan perihal penerjemahan tersebut. Ketiga, busana.Dalam hal berpakaian tokoh Muhammadiyah memadukan berbagai model. Tokoh-tokoh Muhammadiyah memadukan blangkon dengan jas eropa.
Vernakularisasi Muhammadiyah bukanlah sinkritisme akan tetapi upaya meminjam tradisi yang hidup dalam rangka mentransformasikan kesadaran agama. Vernakularisasi adalah upaya rasionalisasi dan transformasi budaya. Setiap budaya harus ditempatkan dalam posisinya sebagai budaya. Budaya tetap perlu dipraktikkan sejauh tidak menyimpang dari akidah Islam. Selain itu, selama budaya tidak menciptakan beban sosial bagi yang melakukannya.

Dakwah Muhammadiyah di Era Big Data

Without big data, you are blind and deaf in the middle of a freeway.” —Geoffrey Moore

Menurut pakar manajemen terkemuka asal Amerika Serikat, Geoffrey Moore, mustahil bagi sebuah perusahaan atau organisasi besar bisa bertahan dan berkembang tanpa kesadaran untuk mengelola ‘big data’. Tanpa itu, menurut Moore, kita seperti berkendara di tengah jalan tol dalam keadaan buta dan tuli. Barangkali kita bisa terus berjalan memacu kendaraan, tetapi kita hanya bisa meraba-raba saja, dan tinggal menunggu waktu untuk tabrakan atau jatuh ke jurang!

Menyadari hal itu, Muhammadiyah bergerak cepat. Sebagai organisasi modern berbasis agama terbesar di dunia, Muhammadiyah akan menjadi yang pertama memiliki pusat pengelolaan ‘big data’ yang terintegrasi dengan pusat dakwah berbasis ‘media baru’—konvergensi antara media digital dan internet. Sesuai dengan spirit ‘Islam Berkemajuan’ yang digaungkannya, Muhammadiyah akan menjadi organisasi Islam yang terdepan mengembangkan ‘integrated big data management’. Hal ini yang menjadi amanat Haedar Nashir, ketua PP Muhammadiyah, dalam rapat terbatas rencana pembentukan Pusat Manajemen Big Data dan Dakwah Digital tersebut, Kamis lalu (7/6) di Yogyakarta.

Big data’ dan ‘media baru’ adalah lisan generasi ‘zaman now’. Jika Nabi berpesan untuk berdakwah sesuai lisan kaumnya (bi lisani qaumihi), maka bisa dipahami bahwa di era ini semua lembaga dakwah perlu menguasai big data dan mengendalikan ‘narasi’ media digital agar bisa diterima sesuai dengan nafas zaman. Esensinya tidak berubah, namun eksistensinya yang berusaha mengejar bentuk dan menyesuaikan diri.

Dengan memiliki database kompleks yang merekam serta menggambarkan bulat-lonjong ‘jamaah’-nya, Muhammadiyah akan lebih leluasa dalam menentukan langkah-langkah organisasional maupun strategisnya. Terlebih jika database dalam skala besar itu bisa diolah sedemikian rupa sehingga mampu melacak peta demografi dan psikografi warga Muhammadiyah hingga ke level ranting, dikelompokkan kebutuhan-kebutuhannya, dan pada gilirannya berbagai informasi yang diperoleh secara ‘realtime’ itu dikonversi menjadi rumusan solusi yang keluar detik itu juga. Itulah kecanggihan fungsi big data.

Data mengenai ribuan sekolah dan universitas, belasan ribu amal usaha, ratusan ribu turunan program ortom, hingga jutaan kader dan jamaah, terkumpul di satu tempat dan bisa dimonitor, dianalisis, bahkan diprediksi pergerakannya-pergerakannya. Tentu semua itu akan menjadi modal besar bagi organisasi ini. Bayangkan misalnya kelak Muhammadiyah bisa merancang platform e-commercenya sendiri, mengembangkan ‘fintech’ berbasis kartu anggota Muhammadiyah yang dintegrasikan dengan sistem ‘e-money’ dengan aneka fasilitas di dalamnya, dan seturusnya.

Untuk kebutuhan dakwahnya, dengan big data ini Muhammadiyah juga bisa menentukan mulai dari isu, tema, hingga ‘timing’ sesuai kondisi jamaah yang akan disasarnya di berbagai daerah. Dengan aneka dataset yang sama, yang diolah dan dianalisis sedemikian rupa tadi, Muhammadiyah juga bisa melakukan maksimalisasi terhadap aneka potensi berbagai amal usaha yang dimilikinya. Di waktu bersamaan, big data ini juga akan berguna untuk mitigasi bencana, manajemen resiko, hingga distribusi ZIS yang dikelola organisasi ini. Menarik, bukan?

Dakwah Digital Buat Milenial

Saat ini data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk berusia 15-45 tahun berkisar 40-an persen dari total populasi penduduk. Artinya, setengah dari penduduk Indonesia bisa dikategorikan sebagai generasi milenial (atau paling tidak xenial). Masuk akal jika narasi-narasi besar yang mengendalikan spirit bangsa ini adalah segala hal yang disukai milenial, dengan media sosial sebagai ruang gerak utama sekaligus medan percakapannya.

Bukan sekadar segalanya serba digital, terpenting adalah semangat yang menjadi fondasi bagi generasi zaman ini: Inovasi, kolaborasi, distribusi kuasa dan nilai (powers and values distribution). Muhammadiyah perlu menggerakkan dakwahnya dengan spirit itu, terutama dalam hal strategi, pola dan pendekatan.

Konten-konten dakwah perlu dikemas sedemikian rupa sehingga mudah diterima, didistribusikan, serta di-‘daur ulang’ oleh jamaah milenial tadi. Kata ‘daur ulang’ (recycle) menjadi penting dalam hal ini, karena konten-konten itu harus bisa menjadi ‘milik semua’ (creative common) agar memiliki daya viral yang alamiah.

Konten-konten itu tidak perlu diproduksi di satu ‘pabrik’ saja, sebab milenial pada dasarnya tidak menyukai materi-materi yang didistribusikan dari pusat kuasa yang tunggal—selain jumlahnya juga pasti akan terbatas. Mereka lebih memerlukan ‘hub of knowledge’, tempat bertemu dan meleburnya aneka gagasan dan interpretasi, di mana mereka diberi ruang serta peluang untuk memilih dan memilahnya sendiri.

Artinya, pusat dakwah milenial Muhammadiyah ini tidak bisa hanya diposisikan sebagai ‘production house’ saja, tetapi ia juga harus bisa menjadi ‘hub’ yang mengagregasi segala bentuk konten yang diproduksi warga Muhammadiyah. Kelak konten-konten itulah yang akan menggerakkan narasi dakwah milenial Muhammadiyah, organisasi hanya berfungsi menetapkan batas-batas demarkasinya, ‘rules of the game’-nya, GBHN-nya.

Bahwa ada konten-konten tertentu yang diproduksi di pusat dakwah untuk milenial ini, iya, tetapi tidak semuanya perlu diproduksi di sana. Bayangkan berapa dana, waktu, SDM yang diperlukan jika media sosial tidak punya karakter ‘user generated content’? Selain tentu juga tidak akan menarik jika konten diproduksi hanya oleh segelintir orang dan dari satu pusat saja.

Ruang Kolaborasi

Dari mana semua ini harus dimulai dan bagaimana memulainya? Saya kira Muhammadiyah sudah memiliki modal yang lebih dari cukup untuk mewujudkan semua ini. Para ahli dan pakar di bidang teknologi informasi, media, hingga manajemen bertebaran di aneka perguruan tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Kita bisa memulainya dari sana. Para ahli dikumpulkan dan dibentuk pola kolaborasinya untuk mewujudkan semua imajinasi ini.

Dalam hal infrastruktur teknologi, Muhammadiyah juga tidak perlu mengerjakan semuanya sendirian dari nol. Berbagai kerjasama bisa dijalin dengan berbagai perusahaan teknologi terkemuka untuk mewujudkan semua ini, dengan sistem ‘benefit sharing’ yang bisa dirumuskan bentuk kerjasamanya, tentu saja.

Termasuk untuk memulai strategi dakwah milenial dalam rangka membangun ‘narasi’ tadi, terdekat bisa dilakukan sistem sindikasi, ‘content sharing’, atau ‘crossposting’ bersama berbagai media yang punya afiliasi dengan Muhammadiyah. Sambil dirumuskan rencana melibatkan sebanyak mungkin warga Muhammadiyah agar terlibat dalam rencana ‘user generated content’ dakwah seperti saya ceritakan sebelumnya. Dengan begini, Muhammadiyah akan menjadi pusat dakwah pertama di dunia yang punya karakter ‘open source’ yang kuat.

Akhirnya, tunggu apa lagi? Kita tak kekurangan apapun untuk membumikan imajinasi ini.

Tabik!

FAHD PAHDEPIE, direktur eksekutif Digitroops Indonesia, peraih 2018 UMY Alumni Award dan 2017 Australia Alumni Award.

Perdirjen Dikdasmen No. 07/D.D5/KK/2018 (Struktur Kurikulum SMK)

Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 07/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

[button color=”green” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” link=”https://drive.google.com/file/d/1aWv7B7XXC9SMu8iojrEF1-6WMT8zyIhm/view?usp=sharing” target=”_blank” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Perdirjen Dikdasmen No. 07/D.D5/KK/2018[/button]

Perdirjen Dikdasmen No. 06/D.D5/KK/2018 (Spektrum SMK)

Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 06/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang Spektrum Keahlian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

[button color=”green” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” link=”https://drive.google.com/file/d/1XgaR5Bd3wcV-oB0SFFkdt_N5cFj9gHf0/view?usp=sharing” target=”_blank” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Perdirjen Dikdasmen No. 06/D.D5/KK/2018[/button]

Permendikbud No. 20 Tahun 2018

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

[button color=”green” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” link=”http://jdih.kemdikbud.go.id/new/public/assets/uploads/dokumen/Permendikbud_Tahun2018_Nomor20.pdf” target=”_blank” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Permendikbud No. 20 Tahun 2018[/button]

Permendikbud No. 14 Tahun 2018

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2018.

[button color=”green” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” link=”http://jdih.kemdikbud.go.id/new/public/assets/uploads/dokumen/Permendikbud_Tahun2018_Nomor14.pdf” target=”_blank” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Permendikbud No. 14 Tahun 2018[/button]

Permendikbud No. 15 Tahun 2018

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.

[button color=”green” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” link=”http://jdih.kemdikbud.go.id/new/public/assets/uploads/dokumen/Permendikbud_No15_Tahun2018.pdf” target=”_blank” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Permendikbud No. 15 Tahun 2018[/button]