Perlombaan Menyambut Hari Guru Nasional Ke-71 Tahun 2016
| Acara | Perlombaan Menyambut Hari Guru Nasional Ke-71 Tahun 2016 |
|---|---|
| Waktu | Senin s.d. Kamis, 21-24 November 2016 pukul 14.30 s.d. 18.00 WIB |
| Lokasi | Di SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan |
Loading
| Acara | Perlombaan Menyambut Hari Guru Nasional Ke-71 Tahun 2016 |
|---|---|
| Waktu | Senin s.d. Kamis, 21-24 November 2016 pukul 14.30 s.d. 18.00 WIB |
| Lokasi | Di SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan |

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa….
Masih hapal lirik lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di atas? Lagu untuk para guru dan pendidik. Lirik lagu itu menunjukkan betapa mulia profesi guru. “Pendidik adalah teladan bagi peserta didiknya,” kata CEO & Founder Elite Tutors Indonesia, Sumarsono.
Guru, lanjut Sumarsono, tidak hanya bertanggung jawab atas penyampaian materi tetapi juga berperan sebagai panutan. Namun, tak bisa dimungkiri guru juga manusia biasa yang memiliki banyak kebutuhan hidup untuk dipenuhi. Sayangnya, keluhan soal kesejahteraan para guru masih terus saja bergaung. Masalah ini menjadi agenda Konferensi Kerja Nasional III Persatuan Guru Republik Indonesia pada Januari 2016.
Keluhan yang mencuat antara lain pengucuran tunjangan belum tepat waktu. Persyaratan penerimaan tunjangan juga dirasa terlalu banyak. Proses kenaikan pangkat pun disebut masih rumit. Belum lagi soal jabatan fungsional dan kecilnya pendapatan guru honorer. Juga, sejumlah tunjangan khusus disebut belum merata. Padahal, tanggung jawab guru tidak kecil. Rasio guru dan murid juga sering tak seimbang.
Menurut PP 74/2008 tentang Guru, idealnya satu guru maksimal mengajar 20 siswa. Kenyataannya, satu guru kerap mendidik lebih dari 40 siswa pada satu waktu. Terlebih lagi, ada tuntutan moral dan etika yang erat melekat pada sosok guru, mulai dari tutur kata hingga perilaku. Untuk itu semua, seorang guru harus terus-menerus mengasah kualitas dan membangun kepribadian.
“Jadilah guru yang kehadirannya selalu dinanti peserta didik karena metode pengajarannya menarik,” ujar Sumarsono. Agar pengajaran efektif, lanjut Sumarsono, guru sebaiknya memastikan pula terlebih dahulu muridnya memang sudah siap menerima materi pelajaran.
Gairah
Sumarsono mengaku tidak sependapat bila guru harus menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan pula berarti guru perlu medali. Namun, kata Sumarsono, guru harus dipastikan hidup sejahtera. Harapannya, kesejahteraan itu akan membuat guru terus termotivasi mengembangkan diri. “Semakin berkembang guru, ia akan semakin maksimal mengajar, sehingga anak didik ikut berkembang,” ungkap Sumarsono.
Menurut Sumarsono, saat ini pendidikan masih terlalu terpaku pada pengabdian. Seolah-olah, kata dia, mulianya profesi ini membuat guru tidak perlu sejahtera. “(Namun), saya menekankan, pendidik jangan (lalu) menuntut dibayar mahal, tapi (pendidik yang harus) memantaskan diri,” tegas Sumarsono. Tentu saja, guru juga harus terus menambah kompetensi agar pantas dibayar mahal itu. Di dalamnya termasuk mempelajari kasus-kasus yang berkembang di dunia pendidikan dan cara menghadapi anak-anak tertentu.
“Nah, bagaimana pendidik (sekarang) mau berkembang kalau sambil mikir besok mau makan apa? Pendidikan macam apa yang mau dibangun oleh pendidik yang tidak sejahtera?” tanya Sumarsono.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Sumarsono pun memastikan para tutor di lembaganya mendapatkan bayaran pantas dan hidup sejahtera. Dari situ dia juga memastikan kualitas para pengajar di lembaganya. “Guru harus memiliki dua kualitas utama. Kualitas latar belakang akademik dan kepribadian menarik,” tegas dia.
Menurut Sumarsono, peserta didik akan sulit menerima ilmu dari guru yang tidak konsisten dan perilaku kesehariannya bertolak belakang dengan ajarannya. Sistem evaluasi pun Sumarsono bangun. Hasil dari proses ini dilaporkan pula ke orangtua murid, berbarengan dengan data perkembangan program. “Jadinya, guru pun semangat belajar,” ungkap dia.
Satu lagi, gairah atau passion adalah kata penting dalam proses pendidikan. Guru yang punya gairah tinggi mendidik akan otomatis punya empati kepada anak didiknya. Dengan sendirinya, sebut Sumarsono, guru itu berpikir kesuksesan peserta didik adalah kesuksesannya. Sebaliknya juga buat para murid.
Lagi-lagi, gairah ini tak bisa dipisahkan dengan kesejahteraan. Sumarsono menganalogikan, gairah tanpa kesejahteraan ibarat mengendarai mobil tanpa pengisian kembali bensin. “Tinggal tunggu mogok (kalau begitu),” tegas dia.
Buku saku pustaka Sahabat Keluarga Kemdikbud, “Menjadi Orang Tua Hebat Untuk Keluarga dengan Anak Usia SMA/SMK”
[document url=”http://smkm11tapteng.sch.id/wp-content/uploads/2016/11/Buku-Saku-SMA-SMK-13052016-laman.pdf” width=”600″ height=”420″]
[button color=”yellow” bgcolor=”#” hoverbg=”#” textcolor=”#” texthcolor=”#” bordercolor=”#” hoverborder=”#” size=”big” align=”center” width=”full” link=”http://smkm11tapteng.sch.id/wp-content/uploads/2016/11/Buku-Saku-SMA-SMK-13052016-laman.pdf” font_weight=”bold” radius=”0″ outer_border_color=”#” icon_color=”#”]Unduh Buku[/button]
Remaja yang memiliki emosi sehat merupakan kunci keberhasilannya di sekolah. Emosi yang sehat itu mencakup kemampuan menangani emosi, memiliki kemampuan mengatasi masalah, memiliki kepercayaan diri, punya empati, serta hubungan interpersonal yang baik dengan lingkungan sekitar.
“Jika siswa memiliki emosional sehat dan memiliki hubungan intrapersonal yang positif di sekolah, maka siswa akan lebih siap dalam kegiatan akademik dan mendapatkan hasil yang baik,” kata Brenton Hall, kepala sekolah Australian Independent School (AIS), Jakarta, beberapa waktu lalu, seperti dikutip portal beritasatu.com.
Untuk membangun emosi sehat pada siswa remaja, kata Hall, harus ada kerja sama yang kuat dan terus-menerus antara pihak sekolah dan orang tua di rumah. “Sekolah harus fokus pada pengajaran yang mendukung keseimbangan emosi dan sosial siswa, yaitu Social and Emotional Thinking (SET). Program SET diharapkan dapat menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan menangani emosi, memiliki kemampuan problem solving, memiliki kepercayaan diri, punya empati, serta hubungan interpersonal yang baik dengan lingkungan sekitar,” tegas Hall.
Linzi Band, pengajar SET di AIS menerangkan, untuk mengasah kemampuan SET, siswa remaja diberi kegiatan yang interaktif dan diberi pemahaman berpikir dan bertindak positif dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda di lingkungan dan komunitas mereka.
Topik-topik SET yang diajarkan dan diasah adalah topik yang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa SMP dan SMA, termasuk mengenai budi pekerti, pemahaman diri sendiri dan orang lain, menghargai orang lain, pengendalian emosi, komunikasi yang efektif, kepemimpinan, cybersafety, mengatasi kecanduan, dan lainnya. “Gak ada kasus bully kalau siswa sudah memiliki keseimbangan emosi dan sosial,” kata Band.
Menurut Band, orang tua juga harus dilibatkan dalam proses membangun SET remaja ini, salah satunya melalui berbagai workshop di sekolah. Tujuannya agar sekolah dan rumah memiliki visi dan misi yang sama bagaimana membangun SET siswa, baik di sekolah dan di rumah.
Setelah mengalahkan Tim Futsal SMA Negeri 1 Matauli Pandan dengan skor 7-5 pada babak perempat final Turnamen Futsal Pelajar Tk. SLTP & SLTA Piala Ka.Kanpora Kab. Tapanuli Tengah Tahun 2016 (Sabtu, 12 November 2016), Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan melangkah ke babak semi final berhadapan dengan Tim Futsal Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pandan.
Minggu pagi (13 November 2016), pertandingan babak semifinal dilaksanakan antara Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan dengan Tim Futsal Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pandan. Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan kembali memenangkan pertandingan dengan skor telak 9-2.
Sementara itu pada pertandingan babak semi final lainnya, Tim Futsal SMA Negeri 1 Tukka memenangkan pertandingan melawan Tim Futsal SMA Negeri 1 Sorkam Barat. Sehingga pada partai final Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan berhadapan dengan Tim Futsal SMA Negeri 1 Tukka yang selama ini dikenal sebagai langganan juara pada turnamen futsal tingkat pelajar yang diadakan di Kab. Tapanuli Tengah.
Partai final diadakan di hari yang sama pada pukul 16.00 WIB. Pada pertandingan ini terlihat begitu banyak penonton dan supporter tiap tim yang memadati Lapangan Futsal Dolsar Pandan. Termasuk di antaranya Kepala Sekolah SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan, Bapak Dedy Fahri S. Sihotang, S.Pd yang juga menyempatkan diri untuk memberi sambutan dan kata-kata penyemangat untuk para anggota tim. Pertandingan berjalan dengan tempo yang cepat, dimana Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan yang berkostum oranye mendominasi pertandingan pada babak pertama dengan skor 4-1.
Terlihat di dalam lapangan Manajer Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan, Bapak Ahmad Yelli, S.TP serta Pelatih, Bapak Eddy Hazmin Tanjung, ST dengan serius memperhatikan permainan dan sesekali berteriak memberi instruksi kepada para pemain. Di awal babak ke dua, Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan kembali memimpin pertandingan dengan skor 6-2. Namun, pelan tapi pasti, Tim SMA Negeri 1 Tukka mengejar ketertinggalannya hingga detik terakhir pertandingan dengan skor 6-6.
Dengan skor imbang tersebut, maka pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu tendangan pinalti. Penjaga gawang Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan, Jaka Pranata sukses menepis dua tendangan pinalti pertama Tim SMA Negeri 1 Tukka. Namun, keuntungan ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penendang Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan dimana 2 orang penendang pinaltinya gagal melesatkan bola ke gawang Tim SMA Negeri 1 Tukka. Keseluruhan tendangan pinalti berakhir dengan skor 4-4, sehingga wasit dan panitia memutuskan pemenang ditentukan dengan 1 tendangan pinalti terakhir dimana apabila si penendang sukses mencetak gol, maka tim penendang menjadi pemenang. Sebaliknya jika penendang gagal mencetak gol, maka tim bertahanlah yang menjadi pemenang.
Hasil undian menetapkan Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan sebagai tim penendang, dan yang menjadi penendangnya adalah Sang Punggawa, Jaka Pranata. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Jaka Pranata menendang bola dengan sangat keras ke arah kanan gawang yang tidak dapat dicapai oleh penjaga gawang Tim SMA Negeri 1 Tukka. Pertandingan yang berlangsung dramatis ini pun dimenangkan oleh Tim SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan. Dan berhak atas Trophy Kepala Kantor Pemuda dan Olahraga (Ka. Kanpora) Kab. Tapanuli Tengah serta uang pembinaan sebesar Rp. 4.000.000 dipotong pajak.
Esok harinya, Senin 14 November 2016, Manajer Tim, Bapak Ahmad Yelli, S.TP menyerahkan trophy dan hadiah kepada Kepala Sekolah Bapak Dedy Fahri S. Sihotang, S.Pd. Dan menyerahkannya kembali kepada para siswa Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan. Semoga prestasi ini dapat terus ditingkatkan, dan dapat menjadi motivasi bagi siswa/i lainnya untuk selalu berprestasi. SMK…BISA!! SMK Muhammadiyah…LUAR BIASA!!!
Daftar pemain Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan :
Berikut ini beberapa foto dan video dokumentasinya.
[mom_video type=”youtube” id=”5frE_A5gHA0″]
Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional RI Tahun 2016, Kantor Pemuda dan Olahraga (Kanpora) Kabupaten Tapanuli Tengah mengadakan Turnamen Futsal Antar Pelajar Tingkat SMP/SMA/SMK se-Kabupaten Tapanuli Tengah untuk memperebutkan Piala Ka.Kanpora. SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan turut serta mengirimkan Tim Futsal-nya yang selama ini dilatih secara rutin melalui program ekstrakurikuler Futsal dan Sepakbola.
Pada pertandingan pertama yang dilaksanakan pada pukul 11.20 WIB, Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan dipertemukan dengan Tim Futsal SMA Negeri 1 Pinangsori. Manajer Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan, Bapak Ahmad Yelli, serta Pelatih, Bapak Eddy Hazmin Tanjung, terjun langsung untuk menemani dan memotivasi para anggota Tim yang bertanding di Lapangan Futsal Dolsar Pandan.
Hasil pertandingan ini dimenangkan oleh Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan dengan skor akhir 3-1. Para pencetak skornya adalah Risky Syaputra, Masfuadi, dan Oki Akbar Hutagalung.
Dengan hasil ini, maka Tim Futsal SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan berhak untuk maju ke babak berikutnya melawan Tim Futsal SMA Negeri 1 Matauli Pandan yang direncanakan pada hari Sabtu, tanggal 12 November 2016.
Berikut ini beberapa foto dokumentasinya.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945 adalah pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Pada tanggal 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum yang berisi ancaman akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila orang-orang Indonesia Surabaya tidak mentaati perintah Inggris. Mereka juga mengeluarkan instruksi yang isinya bahwa semua pimpinan bangsa Indonesia dan para pemuda di Surabaya harus datang selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945, pukul 06.00 pagi pada tempat yang telah ditentukan.
Namun ultimatum itu tidak ditaati oleh rakyat Surabaya. Sehingga terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945, selama kurang lebih satu bulan lamanya.
Medan perang Surabaya kemudian mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit, sekitar 1600 orang prajurit Inggris tewas serta puluhan alat perang rusak dan hancur.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat membara yang membuat Inggris serasa terpanggang di neraka telah membuat kota Surabaya kemudian dikenang sebagai Kota Pahlawan dan tanggal 10 November diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan.

#YukJadiPahlawan
Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela bangsa dan negara, akan dilaksanakan Hening Cipta secara serentak selama 60 detik di seluruh Indonesia. Hening Cipta selama 60 detik secara serentak dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 10 November 2016 pada pukul : 08.15 waktu setempat, bertepatan dengan Upacara Peringatan Hari Pahlawan.
“Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya“. (Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut / rakyat, akibat perlakuan kaum penjajah)
“Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder Pemerintah TNI akan berjuang terus”. (Disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasihatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya)
“Right or Wrong my country, lebih-lebih kalau kita tahu, negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya“. (Pernyataan Prof. DR. R. Soeharso sebagai seorang nasionalis dan patriot)
“Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri“. (Disampaikan Prof. Moh. Yamin, SH pada konggres II di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, dimana ia menjabat sebagai sekretaris)
“Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi“. (Disampaikan pada saat Supriyadi memimpin pertemuan rahasia yang dihadiri beberapa anggota Peta untuk melakukan pemberontakan melawan pemerintah Jepang)
“Indonesia merdeka harus menjadi tujuan hidup kita bersama“. (Disampaikan pada pidato bulan Maret 1945, dimana Teuku Nyak Arif menjadi Wakil Ketua DPR seluruh Sumatera)
“Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang“. (Menceritakan pengalamannya di luar negeri kepada para pemuda di Sulawesi, ketika Abdul Muis melakukan kunjungan ke Sulawesi sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI)
“Pattimura-pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-pattimura muda akan bangkit”. (Disampaikan Pattimura pada saat akan digantung di Kota Ambon tanggal 16 Desember 1817)
“Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku”. (Disampaikan Silas Papare pada saat memperjuangkan Irian Barat / Papua agar terlepas dari belenggu kolonialisme Belanda dan kembali bergabung dengan NKRI)
“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.” (Pidato Bung Tomo di radio pada saat pertempuran menghadapi Inggris di Surabaya bulan November 1945)
“Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali”. (Pidato Gubernur Suryo di radio menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya).
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Presiden Soekarno pada Hari Pahlawan 10 November 1961)
“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.” (Moh. Hatta)
“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! 2 patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tidak dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung”. (R.A. Kartini)
Mengajar fisika di SMK memiliki tantangan sendiri, karena anak SMK lebih ke sisi real teknis. Akan sangat sia-sia jika hanya menitikberatkan teori. Mengajar fisika bukan sekedar teori saja, ada sebuah “kehidupan” di situ. Yah … sebuah kebermaknaan yang sangat indah jika kita mau mendalaminya dan mengajarkannya pada anak-anak. Ilmu fisika mengajarkan tentang toleransi, kesabaran, dan makna kehidupan lainnya.
Sebagai seorang Guru, Ayah dari anak-anakku di sekolah, sudah berapa macam kemirisan yang muncul selama aku mendidik mereka. Apa yang salah dengan fisika? Apa yang salah dengan materi yang Ayah ajarkan? Apakah ini membuat kalian tidak menyukai fisika? Ataukah karena Ayah yang mengajarnya kurang kreatif? Ataukah karena tidak ada makna dalam pembelajaran fisika? Pertanyaan itu yang bertubi-tubi menghantui pikiran ku, ingin rasanya memiliki kelas yang sebagian besar dihabiskan untuk mengupas makna makna yang tersirat dalam pelajaran fisika. Ini adalah sedikit tulisan tentang makna kehidupan yang ada dalam fisika, yang penulis ajarkan kepada anak-anak dikelas, yang setidaknya membuat mereka mulai menggandrungi fisika. Akhirnya sebagian besar anak-anakku memanggilku “Pak Smile, motivator dan inspirator”, sebuah kesenangan yang tidak terbayarkan tentunya bagi penulis.
Entahmau cerita darimana, intinya inilah curahan hati saya sebagai seorang guru SMK. Sebuah bentuk keprihatinan guru ketika melihat pelajaran hanya diajarkan sekedar materi keduniaannya saja, yang sedikit menyentuh sisi kemanusiaannya. Kurikulum yang terbaru mendorong guru untuk memunculkan pendidikan karakter, pendidikan yang juga membentuk sisi kemanusiaan pada diri anak didik. Semoga lewat tulisan ini, apa yang penulis sampaikan sedikit menuntaskan rasa kekecewaan akan materi fisika yang terlalu rumit. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik melalui tadabur kita semua kepada alam ini, alam yang begitu indah ketika kita menyingkirkan sejenak rumus-rumuskaku yang ada di benak diri kita. Ok, langsung aja kali ini, kita akan belajar mengenai Relativitas Einstein terutama mengenai dilatasi waktu.
Jika ada sebuah obyek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka rumusan Newton sudah tidak berlaku di situ. Melainkan rumusan Einstein-lah yang bekerja. Benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan memiliki umur yang lebih muda dibandingkan dengan benda yang hanya diam saja. Ini terjadi karena waktu akan melambat dalam ruang orang yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Bukankah ini pelajaran bisa kita petik dari pelajaran mengenai waktu? Karena diam itu menipu, diam itu akan memperlemah indera yang kita miliki, memang dengan diam kita tidak pernah merasakan terjatuh, kita tak pernah merasakan apa itu rasa sakit, yang ada hanyalah keadaan statis tanpa makna. Memang dengan diam kita tidak mengeluarkan energi, tapi pada hakikatnya kita sedang menjadi bom bagi diri kita sendiri.
Lihat saja elektron yang ada di atom, makhluk sekecil itu saja bergerak terus-menerus. Apa jadinya kalau dia diam? Tubuh ini akan hancur, karena tubuh kita adalah bagian dari atom. Merenung dan berdiam diri boleh-boleh saja, asalkan jangan terlalu lama. Evaluasi diri muncul dari perenungan. Lihatlah jantung kita apakah pernah dia lelah untuk berdetak? Lihatlah nafas kita, apakah dia pernah lelah bernafas? Lihat bagaimana alam mengajari kita tentang arti makna dalam sebuah gerak. Sumber pembelajaran itu justru ada di dalam diri kita sendiri, tapi apakah pernah kita memikirkan itu semua?
(Yaitu) orang-orang yang berdzikir mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran: 191).
Lihat bagaimana Al Qur’an memberi petunjuk kita dalam menjalani hidup ini. Dengan memperhatikan apa yang ada di langit dan bumi (termasuk badan kita), kita dapat mengambil hikmah dari pergerakan yang ada di diri ini. Kalau mau ditelisik lebih jauh, lihatlah muamalah dalam ibadah. Bukankah hampir semua ibadah melalui pergerakan. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa pergerakan menjadi hal yang mutlak untuk dilakukan, serta menjadi eksistensi individu. Masihkah kita hanya berdiam diri melihat masalah yang mendera kita? Masihkah kita hanya bersikap pasrah yang pasif? Bergeraklah menuju kepasrahan yang aktif, bukan kepasrahan yang pasif. Nah, lewat teori relativitas ini kita diajari untuk menjadi manusia yang senantiasa muda, karena pergerakannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan sekitarnya.
Penulis jadi teringat akan besaran dalam fisika yaitu skalar dan vektor. Skalar merupakan besaran yang mempunyai besar saja, sedangkan vektor mempunyai besar dan arah. Kiranya ini tepat untuk menggambarkan orang orang yang pernah penulis temui. Mereka mereka yang mempunyai motivasi kurang, tidak punya visi ke depan penulis analogikan sebagai besaran skalar. Kenapa bisa demikian?Mari kita telisik lebih jauh.
Manusia dilahirkan dengan membawa potensi yang luar biasa, tetapi kenapa mereka merasa tidak bisa menghadapi masalah-masalah yang sedang menghampiri mereka dan akhirnya menjadi malas. Menurut orang-orang psikologi, malas dikarenakan mereka tidak punya tujuan hidup yang jelas jadi mereka kebingungan dalam menetukkan langkah hidup mereka. Jadi orang-orang ini mempunyai potensi (kuantitas besar) tetapi tidak mempunyai tujuan (arah) hidup. Kalau kita bandingkan dengan besaran skalar, maka orang orang bertipe ini masuk dalam besaran skalar, besaran yang punya nilai (potensi) tetapi tidak mempunyai arah (tujuan hidup).
Sebaliknya, orang yang sadar dirinya dibekali potensi dari Tuhan kemudian menggunakan potensi itu untuk mewujudkan mimpinya. Itulah orang-orang vektor, orang yang memiliki potensi dan mempunyai tujuan hidup yang jelas. Dalam hati penulis bergumam, “jadilah vektor, jangan skalar”.
Ada suatu kejadian yang sangat berkesan saat mengajar materi tekanan. Saat itulah anak-anak mulai menyeletuk “Pak Wakhyudi Golden Way”, mungkin sekedar kalimat spontan karena makna kehidupan yang penulis ajarkan kepada anak-anak yang sama sekali mereka tidak menyangka bahwa alam juga mengajari mereka arti kearifan, “TEKANAN, SEBUAH BENTUK KEARIFAN ALAM”.

P = Tekanan
F = Gaya (Dorongan/Tarikan)
A = Luas Penampang
Rumus di atas adalah merupakan hukum yang mengajarkan seseorang untuk berlapang dada. Dan persamaan di atas merupakan informasi yang dapat digunakan oleh orang-orang yang sedang bersedih karena cobaan yang begitu berat. Seorang Pak Tua yang bijak bestari pernah mengajak seorang pemuda yang sedang mengalami stress. Ia mengajak sang pemuda menuju ke tepian sungai, mencoba merenungi pelajaran yang diberikan oleh alam.
Pak Tua : Nak, cobalah kau ambilkan gelas dan garam yang ada di tas ku.
Pemuda tersebut akhirnya mengambilkan apa yang dipesankan oleh sang Bijak bestari.
Pak Tua : Cobalah kau ambil air sungai itu, dan masukan airnya ke dalam gelas tersebut, kemudian isikan garam sebanyak dua sendok ke dalam gelas, kemudian minum.
Pemuda itupun mengikuti apa yang disuruh oleh sang Bijak bestari.
Pak Tua : Apa yang kau rasakan anak muda?
Pemuda : Asin, Pak Tua.
Pak Tua : Cobalah kau tebarkan garam yang tersisa (satu kg) ke dalam sungai, dan rasakan air sungai tersebut.
Pemuda : Tawar, Pak Tua.
Pak Tua : Apakah kamu merasakan garam dalam air sungai itu? Dapatkah kau ambil pelajaran dari kejadian ini?
Tekanan (P) dalam hidup akan terasa ringan ketika cobaan (F) yang datang kepadamu, kamu hadapi dengan hati (A) yang lapang. Namun cobaan akan terasa berat ketika menghadapi masalah, bekal kita adalah hati yang sempit (A kecil). Itu artinya tekanan, ada untuk membuat hatimu selalu hidup (dengan memberikan reaksi terhadap cobaan). Seandainya tidak ada tekanan kita tidak akan pernah merasakan hati yang lapang, tentunya setelah kita paham akan konsekuensi dari hukum tekanan yang ada dalam fisika.
Setelah penulis menyampaikan materi ini, seisi kelas bertepuk tangan. Alangkah indahnya jika pelajaran selalu berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, yang bisa membentuk kepribadian anak-anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan zaman yang tak menentu ini.
Dokumentasi kegiatan latihan reguler ekskul Tapak Suci, hari Selasa tanggal 8 November 2016.

Dokumentasi kegiatan latihan reguler ekskul Futsal, hari Selasa tanggal 8 November 2016. Untuk persiapan mengikuti kompetisi memperebutkan Piala Ka.Kanpora Kab. Tapanuli Tengah.