SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan

Loading

Ciri-Ciri Sekolah yang Melaksanakan Pembelajaran Aktif

activeatschoolPembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.

A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI

  1. Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
  2. Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
  3. Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, pot bunga, tempat sampah)
  4. Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
  5. Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
  6. Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
  7. Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
  8. Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
  9. Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
  10. Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
  11. Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
  12. Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
  13. Iklim sekolah lebih demokratis.
  14. Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
  15. Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
  16. Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
  17. Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
  18. Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
  19. Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
  20. Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).

B. SUMBER DAYA MANUSIA

  1. Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
  2. Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
  3. Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
  4. Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
  5. Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
  6. Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
  7. Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
  8. Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
  9. Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
  10. Peserta didik berani bertanya kepada guru.
  11. Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
  12. Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
  13. Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
  14. Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
  15. Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
  16. Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
  17. Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
  18. Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
  19. Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.

C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR

  1. Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
  2. Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
  3. Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
  4. Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
  5. Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
  6. Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
  7. Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
  8. Ada sarana belajar yang bervariasi.
  9. Digunakan beragam sumber belajar.

D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN

  1. Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
  2. Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
  3. Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
  4. Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
  5. Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
  6. Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
  7. Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
  8. Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.

Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.

Hubungan Iklim Sekolah dengan Hasil Akademik-Non Akademik

sekolahIklim sekolah didefinisikan orang secara beragam dan dalam penggunaanya kerapkali dipertukarkan dengan istilah budaya sekolah. Iklim sekolah sering dianalogikan dengan kepribadian individu dan dipandang sebagai bagian dari lingkungan sekolah yang berkaitan dengan aspek-aspek psikologis serta direfleksikan melalui interaksi di dalam maupun di luar kelas. Halpin dan Croft (1963) menyebutkan bahwa iklim sekolah adalah sesuatu yang bersifat intangible tetapi memiliki konsekuensi terhadap organisasi.

Tagiuri (1968) mengetengahkan tentang taksonomi iklim sekolah yang mencakup empat dimensi, yaitu: (1) ekologi; aspek-aspek fisik-materil, seperti bangunan sekolah, ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang BK dan sejenisnya (2) milieu: karateristik individu di sekolah pada umumnya, seperti: moral kerja guru, latar belakang siswa, stabilitas staf dan sebagainya: (3) sistem sosial: struktur formal maupun informal atau berbagai peraturan untuk mengendalikan interaksi individu dan kelompok di sekolah, mencakup komunikasi kepala sekolah-guru, partispasi staf dalam pengenbilan keputusan, keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan, kolegialitas, hubungan guru-siswa; dan (4) budaya: sistem nilai dan keyakinan, seperti: norma pergaulan siswa, ekspektasi keberhasilan, disiplin sekolah.

Berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, iklim sekolah telah terbukti memberikan pengaruh yang kuat terhadap pencapaian hasil-hasil akademik siswa. Hasil tinjauan ulang yang dilakukan Anderson (1982) terhadap 40 studi tentang iklim sekolah sepanjang tahun 1964 sampai dengan 1980, hampir lebih dari setengahnya menunjukkan bahwa komitmen guru yang tinggi, norma hubungan kelompok sebaya yang positif, kerja sama team, ekspektasi yang tinggi dari guru dan adminstrator, konsistensi dan pengaturan tentang hukuman dan ganjaran, konsensus tentang kurikulum dan pembelajaran, serta kejelasan tujuan dan sasaran telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pencapaian hasil akademik siswa.

Hubungan sosial antara siswa dengan guru yang mutualistik merupakan unsur penting dalam kehidupan sekolah. Guru yang memiliki interes, peduli, adil, demokratis, dan respek terhadap siswanya ternyata telah mampu mengurangi tingkat drop out siswa, tinggal kelas, dan perilaku salah suai di kalangan siswa (Farrell, 1990; Fine, 1989; Wehlage & Rutter, 1986; Bryk & Driscoll, 1988). Studi yang dilakukan oleh Wentzel (1997) mengungkapkan bahwa iklim sekolah memiliki hubungan yang positif dengan motivasi belajar siswa. Sementara itu, studi longitudional yang dilakukan oleh Roeser & Eccles (1998) membuktikan bahwa guru yang bersikap adil dan jujur memiliki dampak ke depannya bagi penguasaan kompetensi akademik dan nilai-nilai (values) akademik. Studi yang dilakukan Stockard dan Mayberry (1992) menyimpulkan bahwa iklim sekolah, yang mencakup : ekspektasi prestasi siswa yang tinggi, lingkungan sekolah yang teratur, moral yang tinggi, perlakuan terhadap siswa yang positif, penyertaan aktivitas siswa yang tinggi dan hubungan sosial yang positif ternyata memiliki korelasi yang kuat dengan hasil-hasil akademik siswa.

Selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa, iklim sekolah pun memiliki kontribusi positif terhadap pencapaian hasil non akademik, seperti pembentukan konsep diri, keyakinan diri, dan aspirasi (Brookover et al., 1979; McDill & Rigsby, 1973; Mitchell, 1968; Anderson, 1982). Studi yang dilakukan Battistich dan Hom (1997) mengungkapkan bahwa adanya perasaan akan komunitas (sense of community) dapat mengurangi secara signifikan terhadap munculnya perilaku bermasalah seperti, keterlibatan narkoba, kenakalan remaja dan tindak kekerasan. Iklim sekolah yang positif juga dapat menurunkan tingkat depresi (Roeser & Eccles 1998). Studi yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1983 yang menguji tentang kesehatan perilaku, gaya hidup dan konteks sosial pada kalangan anak muda di 28 negara menunjukkan bahwa keterlibatan peran dalam pengambilan keputusan di sekolah, perasaan memperoleh dukungan dari guru dan siswa lainnya ternyata berkorelasi dengan semakin berkurangnya kebiasaan merokok, tingginya aktivitas fisik, serta tingkat kesehatan dan kualitas hidup yang baik (Currie et al. 2000). Iklim sekolah juga berpengaruh terhadap pembentukan nilai-nilai kewarganegaraan (civic values). Sebagai contoh: hubungan guru-siswa yang saling menghormati, adanya kebebasan untuk menyatakan tidak setuju, mau mendengarkan siswa meski dalam perspektif yang berbeda telah memberikan dampak terhadap tingkat kekritisan siswa tentang berbagai isu yang terkait dengan kewarganegaraan (Newmann, 1990). Selain itu, siswa juga lebih toleran terhadap perbedaan (Ehman, 1980) dan lebih mengenal terhadap berbagai hubungan internasional (Torney-Purta & Lansdale, 1986).

Adaptasi dan disarikan dari : Les Gallay and Suet-ling Pong. 2004. School Climate and Students’ Intervention Strategies on line pop.psy.edu

Saatnya Ubah Etos Kerja Guru

1995PERAN guru dianggap penting dalam menggenjot pendidikan vokasi melalui jalur sekolah menengah kejuruan (SMK) sehingga dapat mencetak lulusan SMK bermutu. Karena itu, pemerintah harus segera berbenah diri sedari dini demi terwujudnya lulusan SMK yang mampu bersaing di dunia kerja.

“Guru-guru SMK kita harus segera dibenahi dan dimodifikasi, dan yang paling penting dibenahi ialah etos kerja guru SMK,” ungkap praktisi pendidikan vokasi Marlock menjawab Media Indonesia, di Jakarta, Selasa (18/10).

Salah satunya, ia mengingatkan para guru SMK agar membuka diri dan mau belajar satu sama lain. “Ayo kita membuka diri dan mau belajar dengan para supervisor kalangan industri. Tunjukkan bahwa guru mampu bekerja sama dan dunia industri pun mau mengakui lulusan SMK,” tandasnya.

Ia juga berpendapat saat ini pelatihan para guru SMK sudah berlalu dan kini hanya menunggu praktik di lapangan. “Sekarang ini, guru-guru SMK harus dilakukan revolusi mental. Mau tak mau mereka harus bisa praktik kerja 8 jam sehari,” ungkap Marlock yang juga Koordinator Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia.

Itu sangat penting karena saat ini masih banyak guru SMK yang bertugas memilih cepat pulang seusai mengajar. Menurut dia, guru SMK seharusnya dapat bekerja keras, kerja cerdas, dan kreatif.

“Kerja kita, jangan jam satu siang sudah pulang. Saya mengimbau guru pertanian, ayo terjun masuk sawah, guru kelautan, ayo berlayar, serta guru perikanan, ayo berlayar cari ikan jangan terjebak hanya sampai di budi daya saja,” imbuhnya.

Ia berpendapat guru SMK tak usah malu menjual hasil produksi pertanian dan perikanan yang dikerjakan di sekolah. “Ayo, kita jual hasil karya siswa untuk memberi contoh kepada siswa bahwa hasil praktik pendidikan bisa laku dijual dan ada harga untuk hidup-menghidupi,” ujarnya.

Marlock juga menyarankan pemerintah agar cmendorong pihak sekolah untuk dapat berkolaborasi atau bekerja sama dengan industri, yakni merangkul para senior yang hendak pensiun agar mengabdi selama satu tahun di SMK sebagai bentuk bela negara atau tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan.

Sumber : DitPSMK

Kemendikbud Luncurkan Aplikasi Pembelajaran Paket C dan Donasi Buku Daring

faea4f02e82d117Palu, Kemendikbud — Bertepatan dengan Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2016 di Kota Palu Sulawesi Tengah, Kamis (20/10/2016), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan dua aplikasi daring (online). Kedua aplikasi tersebut adalah sistem pembelajaran Paket C dan donasi buku daring.

Hadir saat peluncuran, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Kemendikbud Harris Iskandar dan Deputi Koordinasi Bidang Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono. Selain meluncurkan, Harris Iskandar dan Agus Sartono juga mencoba menggunakan kedua aplikasi daring tersebut.

Harris Iskandar mengajak masyarakat memanfaatkan aplikasi-aplikasi ini agar memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan pembelajaran konvensional. “Jangan sampai setelah diresmikan, besoknya berhenti. Belajar kan juga bisa memakai internet,” kata Harris saat melakukan telewicara dengan para pegiat pendidikan. Harris menambahkan bahwa media belajar sangat berlimpah di internet dan harus dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan.

Dalam kesempatan yang sama, Agus Sartono berpesan agar aplikasi ini dapat dikembangkan lebih maksimal, sehingga penggunaannya dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia. “Dengan (aplikasi daring) ini belajar bisa dari jarak jauh. Bisa mengunakan komputer, bahkan HP (telepon seluler). Saya yakin peserta punya HP bahkan di daerah-daerah terpencil,” kata Agus.

Selain meluncurkan aplikasi daring, Kemendikbud juga memberikan penghargaan kepada para tokoh yang peduli terhadap upaya penuntasan tuna aksara di Indonesia, serta penghargaan kepada satuan pendidikan nonformal berprestasi. Puncak Peringatan HAI tahun ini dimeriahkan juga dengan sejumlah acara terkait dengan keaksaraan seperti pameran dan festival literasi, serta lokakarya yang mengundang komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat dari seluruh Indonesia.

Sumber : Kemdikbud

Tips Agar Lancar Berbicara di Depan Umum

Apakah Anda termasuk orang yang masih sering tidak lancar (belepotan) ketika melakukan presentasi? Sebelum kita ke inti permasalahan ada 3 penyebab presentasi kita gagal baca di bawah ini :

1. Takut, Grogi atau Minder

grogi1-660x330Hal yang wajar ketika Anda merasa takut, grogi atau minder karena saya juga merasakannya, tapi yang tidak wajar adalah ketika Anda membiarkan perasaan tersebut menguasai sehingga merusak presentasi Anda. Semua orang ketika pertama kali tampil didepan umum pasti akan merasa kurang percaya diri. Perasaan ini muncul karena adanya pikiran negatif dari dalam diri kita. Seringkali merasa memiliki banyak kekurangan, tidak pintar, tidak berpengalaman dan takut jika teryata gagal (tidak bisa). Atau bisa jadi karena jumlah peserta (terlalu banyak/ terlalu sedikit), kadang juga disebabkan karena status peserta lebih tinggi dari pembicara.

2. Kurangnya Persiapan

unpreparedPersiapan yang kurang membuat penguasaan materi yang tidak maksimal. Hal ini secara otomatis akan memicu rasa khawatir jika materi yang akan disampaikan tidak lancar. Contohnya ketika Anda tiba-tiba diminta secara mendadak untuk presentasi. Bukan situasi yang enak dan banyak pilihan tapi situasi seperti ini bisa membuat presentasi berantakan. Ada juga istilah presentasi gasing, yang isi presentasinya hanya berputar-putar saja sehingga tambah lama si pembicara menjadi tambah bingung dan tidak tahu harus berbicara apa lagi.

3. Word Filler

filler-words-pictureWord filler adalah pengucapan kata yang tidak memiliki arti. Kata-kata ini sering disebut bergumam atau mumbling. Seringkali hal ini kita lakukan tanpa kita sadari, secara reflek keluar begitu saja. Jika durasinya terlalu sering maka akan menimbulkan kesan belepotan saat presentasi. Bergumam seperti ‘eee,, eemmm’ akan mengganggu kejernihan pesan yang Anda sampaikan dan membuat Anda terlihat tidak siap membawakan presentasi dihadapan audiens. Untuk mengatasinya Anda harus sadar dulu Word filler Anda itu seperti apa, karena masing-masing orang akan berbeda. Jika Anda tidak sadar akan sulit memperbaikinya.

Untuk mencegah ketiga hal di atas, berikut ini bebrapa tips bagaimana cara agar lancar berbicara di depan umum ketika presentasi dan tampil percaya diri saat presentasi :

1. Persiapan

checklistCara yang paling efektif untuk menghilangkan rasa takut, grogi & minder adalah persiapan. Bahkan presenter kelas dunia juga selalu melakukan persiapan sebelum mereka presentasi. Apa saja yang harus Anda siapkan?

  • Materi. Pastikan materi Anda sudah benar-benar siap, buat materi presentasi yang mudah untuk dipahami audiens, karena sebagus apapun isi materi tapi kalau sulit untuk dipahami akan percuma. Selain itu Anda juga harus benar-benar menguasai materi dengan cara latihan membawakan materi presentasi. Saya selalu menyempatkan latihan membawakan materi minimal 1 hari sebelum presentasi. Ketika latihan Anda harus benar-benar memposisikan tubuh dan gaya Anda seperti sedang presentasi bukan sekedar membaca materi. Kebanyakan orang hanya latihan sambil duduk & membaca, percayalah itu tidak efektif.
  • Skrip. Skrip berfungsi sebagai panduan Anda tentang apa saja yang akan disampaikan, tulis sedetail mungkin karena ini adalah sekenario presentasi Anda. Apakah saat tampil harus sama 100% dengan skrip? Tidak juga, pada praktiknya Anda akan banyak melakukan perubahan ketika presentasi di depan, tapi Anda sudah ada panduan urutan presentasinya bagaimana, dan sudah tahu apa saja yang harus disampaikan sehingga tidak perlu takut keluar dari pembahasan. Skrip sebaiknya ditulis secara detail sehingga Anda bisa tahu apa yang harus Anda bicarakan ketika berada di depan. Jika Anda tidak suka menulis skrip secara detail, Anda bisa membuat skrip dalam bentuk point-point dengan menggunakan teknik mind mapping untuk presentasi.
  • Slide. Ini peralatan perang yang harus selalu Anda siapkan. Slide membantu Anda mengingat materi yang ingin disampaikan dan membantu audiens memahami + memperkuat pesan yang Anda sampaikan. Bagi Anda yang sering melakukan presentasi gasing, Anda harus benar-benar mempersiapkan struktur materi presentasi, skrip dan slide dapat menolong Anda ketika penyampaian materi presentasi mulai kehilangan arah.
  • Latihan. Banyak orang yang sudah biasa presentasi menyepelekan hal ini. Padahal latihan akan membuat skill presentasi selalu meningkat. Latihan dapat dilakukan ketika di kamar mandi, atau berlatih didepan cermin. Semakin sering latihan akan membuat presentasi Anda seperti sedang ngobrol dengan teman. Tanpa perlu berfikir, semua kata-kata sudah otomatis keluar dengan sendirinya. Latihlah pembukaan Anda seperti apa, latihan dengan menggunakan slide supaya hasilnya lebih optimal. Jangan lupa melatih cerita atau humor yang akan Anda ceritakan (ice breaking), jangan sampai Anda merasa lucu tapi teryata garing untuk peserta. Khusus untuk Anda yang punya permasalahan dengan Word filler, maka sering-seringlah latihan dengan direkam sehingga Anda akan tahu dimana titik yang harus diperbaiki.
  • Lokasi. Upayakan selalu datang lebih awal untuk mempersiapkan presentasi Anda. Dengan datang lebih awal Anda punya waktu untuk menyesuaikan tubuh dan melakukan visualisasi presentasi yang akan Anda laksanakan.

2. Hilangkan Rasa Takut

no-fearYang harus Anda pahami bahwa ketakukan itu hanya ada di dalam fikiran Anda sendiri. Seringkali apa yang Anda takutkan tidak pernah terjadi. Coba amati ketika Anda merasa tidak percaya diri pasti posisi tubuh Anda sedikit membungkuk, tatapan cenderung ke bawah, kadang tangan juga berkeringat, artinya apa? Di dalam NLP Anda akan belajar bahwa the mind and body is one (pikiran dan tubuh adalah satu). Merubah salah satunya, otomatis mempengaruhi yang lainnya. Perasaan takut, grogi & minder ada di dalam fikiran Anda. Yang harus Anda lakukan untuk menghilangkannya adalah dengan merubah gerak fisik.

  • Pemanasan. Ambilah waktu untuk melakukan pemanasan, jangan biarkan tubuh Anda dalam posisi diam penuh kegusaran. Mulai gerakkan tangan dan kaki, ubah posisi tubuh menjadi lebih tegak dan tersenyumlah. Bisa juga dengan pergi ke kamar mandi untuk loncat-loncat dan melakukan pemanasan atau untuk sekedar buang air kecil atau cuci muka. Jangan sampai Anda menahan ingin buang air kecil saat presentasi karena rasanya sangat tidak nyaman.
  • Perut. Ambillah nafas untuk membuat detak jantung Anda menjadi lebih stabil. Ambil pernafasan perut (bukan dada) dengan cara memegang perut Anda lalu ambil nafas. Jika perut Anda mengembang pada saat menarik nafas itulah pernafasan perut. Pernafasan perut akan membuat detak jantung Anda menjadi lebih stabil sehingga perasaan Anda akan lebih tenang.
  • Ubah Fokus. Dari pada terus memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi, cobalah untuk merubah fokus ke hal yang lain, misalnya menyambut peserta yang datang dengan berjabat tangan atau ngobrol ringan (di luar topik presentasi). Atau iseng membuka foto-foto di HP yang isinya foto Anda bersama keluarga atau teman. Fungsinya hanya sekedar untuk mengubah fokus dari hal-hal negatif ke hal-hal yang positif.

3. Self Talk

self-talkCara terakhir untuk menghilangkan rasa takut, grogi & minder adalah self talk. Anda pasti sadar ketika perasaan takut, grogi dan minder itu datang maka akan banyak sekali kalimat-kalimat yang melemahkan yang menari-nari di kepala. Bagaimana jika gagal, bagaimana jika ditertawakan, bagaimana jika audiens tidak suka dan masih banyak lagi, hal-hal negatif berkumpul jadi satu dan dan melemahkan Anda.

  • Ubah Pertanyaan. Jika ini sudah terjadi, maka lakukan self talk. Bicaralah pada diri Anda sendiri dimulai dengan mengubah pertanyaan. Bagaimana jika nanti presentasinya sukses?, Bagaimana caranya supaya audiens suka dengan presentasi saya?, Bagaimana caranya supaya audiens lebih mudah memahami? Ingat, kualitas pertanyaan Anda akan menentukan jawaban. Kalau pertanyaan positif, maka jawaban yang dihasilkan juga positif, dan tidakan yang diperbuat cenderung lebih positif.
  • Berdo’a. Jangan lupa berdoa supaya diberi ketenangan, dimudahkan dan diberi kelancaran lisan ketika menyampaikan presentasi. Dengan berdo’a, kita telah menyerahkan segala ikhtiar yang sudah kita persiapkan untuk selalu mendapat pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Dengan sikap berpasrah ini maka hati menjadi lebih tenang dan tidak ada beban ketika presentasi.

Demikianlah beberapa tips agar lancar menyampaikan presentasi di depan umum. Semoga bermanfaat.

Sumber : EkoConqueror@Kaskus

Koleksi Piala / Piagam / Sertifikat Guru & Siswa

Koleksi foto Piala / Piagam / Sertifikat Guru & Siswa SMKS TI Muhammadiyah 11 Sibuluan.

Pengisian Aplikasi PMP untuk Siswa Kelas XII TKJ 1 (Daslin Sitompul)

Diumumkan kepada siswa/i kami kelas XII TKJ 1 (Wali Kelas : Daslin Sitompul) yang saat ini masih dalam masa PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di DU/DI untuk dapat hadir di sekolah (Laboratorium Komputer) pada hari Sabtu, 22 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB. Untuk melakukan pengisian aplikasi PMP mode daring, dengan dipandu oleh Bapak Moerdjoko Nawantoko. Sekian dan terima kasih.

Mendikbud Tinjau Uji Kompetensi Keterampilan di Solo

muhajir-effendi-ukk-solo-2016

Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meninjau pelaksanaan uji kompetensi keterampilan yang dilakukan secara serentak atau massal di Gelanggang Bung Karno, Solo, Sabtu (15/10/2016). Pelaksanaan uji kompetensi tersebut diselenggarakan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Solo bekerja sama dengan Himpunan Penyelenggara Kursus Indonesia (HIPKI).

Ada 14 jenis keterampilan yang diujikan dalam uji kompetensi tersebut. Ke-14 keterampilan itu adalah komputer (200 peserta), tata busana (131 peserta), sekretaris (100 peserta), akuntansi (80 peserta), bahasa inggris (155 peserta), perhotelan (88 peserta), penyiaran atau broadcast (20 peserta), refleksi (50 peserta), tata kecantikan rambut (40 peserta), tata rias pengantin (20 peserta), tata kecantikan kulit (30 peserta), elektronika (78 peserta), senam (90 peserta), pengasuh bayi (50 peserta), dan menjahit (130 peserta).

Untuk setiap bidang keterampilan, Disdikpora Solo dan HIPKI menghadirkan penguji dari berbagai lembaga sertifikasi sesuai bidang-bidang tersebut. Salah satunya adalah Lembaga Sertifikasi Komputer Teknologi Informasi dan Komunikasi (LSKTIK) Jakarta yang menjadi penguji kompetensi bidang komputer.

Kepada para peserta uji kompetensi, Mendikbud mengingatkan, dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, masyarakat harus waspada dan siap menghadapi semakin ketatnya persaingan global.
“Jika Anda kalah bersaing, maka habislah Indonesia ini. Jadi sekali lagi, mulai tahun ini tenaga kerja dari luar negeri, terutama dari ASEAN, bisa masuk ke Indonesia. Kalau kita tidak bisa mengamankan negara sendiri dalam sektor lapangan kerja, maka kita akan tergilas oleh tenaga kerja dari Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Oleh sebab itu, anak-anakku sekalian, kita harus kerja keras untuk menyiapkan tenaga kerja muda yang mampu bersaing,” kata Mendikbud.

Ia menuturkan, masa depan Indonesia juga akan ditentukan oleh kemampuan dan kesanggupan generasi mudanya. “Itulah yang disebut dengan kompeten. Kompeten artinya sanggup, mampu dengan standar tertentu tidak asal-asalan mengerjakan sesuatu itu namanya kompeten,” ujarnya.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan saat ini bidang pendidikan nonformal (PNF) tak lagi dipandang sebelah mata. Bidang PNF justru mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Karena mereka memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan pun meningkat,” katanya. (Desliana Maulipaksi)
Sumber : Kemdikbud