Abdul Mu’ti: Ketidakadilan Penyebab Munculnya Terorisme
Jakarta — Muhammadiyah menilai ketidakadilan merupakan penyebab besar yang mendorong munculnya terorisme. Ketidakadilan ini pun dapat muncul di suatu negara bahkan global.
“Terorisme itu adalah produk dari keadaan,” ujar Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti saat memberikan pernyataan penutup dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah, di Jakarta, Jumat (8/4). Keadaan itu, kata dia, adalah ketidakadilan ekonomi-politik yang berlangsung lama dalam kehidupan manusia.
Mu’ti pun berpendapat, terorisme yang banyak terjadi itu, dilakukan oleh pihak tertentu dengan menyalahgunakan agama. Agama, terang dia, digunakan oleh teroris sebagai justifikasi untuk melakukan terorisme.
Dan menyangkut terorisme, ia menuturkan, sama sekali tidak memiliki akar budaya pada bangsa Indonesia. “Indonesia ini masyarakat yang toleran,” ucapnya menegaskan.
Kasus Siyono
Kemudian, di forum luas ini, Mu’ti menyinggung kasus yang ramai dibicarakan masyarakat baru-baru ini. Yaitu mengenai kasus meninggalnya Siyono, terduga teroris warga Klaten yang ditangkap hidup-hidup oleh Densus 88 hingga dikembalikan kepada keluarganya dalam keadaan tak bernyawa.
Mu’ti mengatakan, Muhammadiyah telah menugaskan tim forensik untuk melakukan otopsi terhadap mayat Siyono di Klaten. Ini untuk mengetahui apa yang menyebabkan Siyono mengalami kematian.
Ihwal hasil otopsi itu, lanjut alumni doktor UIN Syarif Hidayatullah ini, akan diinformasikan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) beberapa hari ke depan. Mu’ti mendorong, Komnas HAM untuk tidak berhenti membuka semua hal yang terjadi terkait kematian Siyono.
“Komnas HAM tidak boleh masuk angin,” tegas Mu’ti mengharapkan.(Ridlo Abdillah) (dzar)
Din: Deradikalisasi, Jalan Yang Keliru
JAKARTA — Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) Prof. Din Syamsudin mengecam aksi teror dalam bentuk apapun. Sebab, aksi teror atau terorisme adalah kejahatan luar biasa yang dapat merusak kemanusiaan. Apalagi, kata Din, aksi teror itu dilakukan dengan mengaitkan agama.
“Maka tidak benar kalau ada yang menuduh Islam sebagai agama terorisme,” ujar Din menjelaskan dalam pengajian bulanan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang ditayangkan TVMu dengan tema “Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif”, di Jakarta, Jumat (8/4).
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menuturkan, terorisme sebenarnya tidak terkait dengan agama apapun. Namun, terang dia, aksi teror yang telah terjadi, selalu dikaitkan dengan Islam. Dan itu, kata dia, dapat juga terlihat dengan adanya generalisasi terhadap seluruh umat Islam yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Merusak citra,” tegas Din yang menyesalkan adanya stereotipe terhadap Islam. Akibat stereotipe ini, Din melanjutkan, terutama di Amerika Serikat dan di Eropa, muncul dengan skala besar yaitu ketakutan pada Islam atau islamophobia.
Sehingga, Din memberitahukan, negara-negara barat itu, melakukan tindakan yang tidak tepat dalam menanggulangi terorisme. Yakni, kata dia, banyak negara melawan terorisme selalu dengan peperangan. “War on terror diakui menempuh jalan yang salah,” ujar Din menegaskan ihwal pandangan banyak pihak terkait war on terror.
Bahkan, program deradikalisasi yang digaungkan oleh Amerika Serikat itu, menurut Din, adalah tindakan yang sebenarnya memunculkan radikalisme itu sendiri. “Saya meyakini program deradikalisasi ini adalah proyek Amerika Serikat,” katanya.
Tak terkecuali di Indonesia, sambung Din, deradikalisasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) justru melanggengkan terorisme. “Deradikalisasi selama ini menempuh jalan yang keliru,” ucap Din yang tengah melaksanakan tugasnya di Wina.
Karena itu, ia berharap, penanggulangan terorisme haruslah dilakukan secara komprehensif. Atau, kata dia, tidak menggunakan cara berpikir yang sempit seperti analogi menggunakan kacamata kuda. Yaitu tidak hanya melihat sumber penyebab adanya terorisme karena faktor ideologi.
Namun, Din menegaskan, faktor lain penyebab adanya terorisme adalah kesenjangan, ketidakadilan ekonomi dan politik. Lalu, faktor lainnya adalah adanya pihak tertentu yang melakukan standar ganda dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.
Dan tak kalah besarnya, penyebab lahirnya terorisme, kata Din, yakni faktor penunggangan. Faktor ini ada karena ada yang memiliki kepentingan terhadap terorisme itu. Ini dimunculkan, terang dia, tak lain juga untuk mendiskreditkan Islam.
Din mendorong, agar Pemerintah Indonesia, Polri, dan masyarakat sipil untuk duduk bersama memberantas terorisme itu secara komprehensif.
“Ini tiada lain adalah membela kebenaran dan keadilan,” kata Din mengakhiri. (Ridho Abdillah)(dzar)
(Reporter: Ilma Aghniatunnisa)
Hari Pertama Masuk Sekolah T.P. 2016/2017
| Acara | Hari Pertama Masuk Sekolah T.P. 2016/2017 |
|---|---|
| Waktu | Senin, 11 Juli 2016 pukul 07.15 WIB |
| Lokasi | SMK Sw. Muhammadiyah 11 Sibuluan |
Album 1 Perpisahan 9 April 2016
Kumpulan foto di Album 1 Acara Perpisahan Kelas XII T.P. 2015/2016 yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2016.
[images_grid type=”grid” auto_slide=”yes” auto_duration=”3″ cols=”three” lightbox=”yes” source=”media: 448,308,307,306,305,304,303,302,301,300,299,298,297,296,295″][/images_grid]





