SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan

Loading

Tingkatkan Kecerdasan Dengan Ini, Maka Manfaatnya Akan Membuat Kalian Terkesan !

Kecerdasan Emosional (bahasa Inggris : Emotional Quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ).

Keterampilan Sosial

Ini mencakup empati, dengan upaya memenuhi kebutuhan orang lain dan ente sendiri. Misalnya dalam menemukan kesamaan dengan orang lain, mengelola hubungan di lingkungan kerja dan kemampuan persuasif. Keterampilan sosial kalian mempengaruhi segala sesuatu, baik kinerja maupun kehidupan romantis. Bentuk paling umum: menyelesaikan perselisihan. Mengatasi masalah setelah semua pihak tenang.

40anakcerdas

Empati

Sementara sebelumnya mengacu pada emosi internal seseorang, yang satu ini berhubungan dengan emosi orang lain. Empati adalah keterampilan dan praktik membaca emosi orang lain dan merespon dengan tepat. Triknya, mau mendengar orang lain, menempatkan diri pada posisi orang lain, mencoba memahami.

4292-anak-berkarakter-sulit-miskin-empati

Membangun Motivasi

Setiap orang termotivasi dengan adanya imbalan, misalnya materi, status atau lainnya. Yang perlu dibangun: motivasi terhadap suka cita diri & kepuasan diri yang produktif, baik dalam berhubungan dengan orang lain, karir dan lainnya. Banyak strateginya.  Buat daftar hal yang kalian pingin dihargai, terima kenyataan & bangkit. Ada yang mencapai sesuatu dengan perlahan, ada pula dengan berungkali berusaha.

kata-motivasi-mindset-tentang-gagal

Mengontrol Diri

Ini kemampuan untuk menjaga emosi kalian ketika terganggu. Pengendalian diri melibatkan kemampuan untuk mengendalikan amarah, dengan tenang membahas perbedaan pendapat, dan menghindari panik. Kontrol diri berarti mengendalikan ledakan emosi, memilah pemicu emosi dan melakukan apa yang terbaik sesuai kebutuhan kalian. Atur nafas ketika ente marah dan keluar dulu dari lingkaran emosional.

160700264

Membangun Kesadaran Diri

Kesadaran diri adalah upaya dalam menggali & mengetahui perasaan Anda sendiri. Ini termasuk memiliki penilaian akurat kemampuan Anda, kapan kalian membutuhkan bantuan, & menggali apa pemicu emosi itu. Jika perlu merespon orang lain, ambil waktu sejenak sebelum bereaksi balik. Perhatikan masukan dari orang lain tentang kelebihan dan kelemahan kita. Meditasi juga membantu membangun kesadaran diri.

130922-130551

Emosional

Kecerdasan emosional menggambarkan seberapa baik individu dapat mengelola emosi mereka sendiri & bereaksi terhadap emosi orang lain. Kecerdasan emosional perlu untuk mengingkatkan kualitas hidup, seperti mengatasi konflik, merespon kebutuhan orang lain, dan menjaga emosi yang mengganggu kehidupan. Kecerdasan emosional dapat dikembangkan sendiri.

emotions_-_3

Sumber : lunaticfringe@kaskus

Mengapa Perlu Gerakan Literasi Sekolah?

IT takes a village to raise a child.

Pepatah Afrika itu menegaskan tugas pengasuhan anak ialah tanggung jawab masyarakat. Jauh sebelum sekolah melembaga dalam kultur Indonesia, keluarga besar, tetangga, dan lingkungan masyarakat terdekat ikut mengawasi pertumbuhan seorang anak. Tradisi itu membuat halaman rumah menjadi tempat bermain bersama dan ruang pengasuhan komunal.

Namun, pada era modern ini, tanggung jawab pengasuhan bergeser ke keluarga inti dan sekolah. Ruang komunal merambah dan difasilitasi ranah daring. Ini terlihat dari sinergi antarelemen masyarakat yang berlangsung dalam ruang chat, media sosial, dan terbentuknya komunitas-komunitas daring yang peduli pendidikan. Kepedulian bersama ini seharusnya menguatkan peran sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Penelitian Alan Barton (2003) membuktikan keterlibatan keluarga dan publik dalam mendukung sekolah mampu meningkatkan motivasi belajar anak, mempertahankan keajegan kehadiran siswa di sekolah, mengurangi tingkat drop out, dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Keberhasilan ini dialami siswa dari semua ras minoritas di sana sehingga partisipasi publik dalam pendidikan ditengarai mampu mengurangi kesenjangan pencapaian akademik antara mayoritas dan minoritas yang selalu menjadi momok pendidikan multikultural. Penelitian ini juga menunjukkan dukungan publik dalam bentuk sumber daya untuk memfasilitasi kegiatan sekolah terbukti dapat meningkatkan kinerja sekolah dan motivasi belajar siswa.

Studi itu sangat kontekstual dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Banyak sekolah negeri berada di daerah terluar, daerah-daerah dengan akses terbatas pada infrastruktur publik, dan mengakomodasi siswa-siswa dari keluarga prasejahtera serta suku minoritas. Fakta itu tentu tidak mengabaikan sekolah-sekolah negeri di kantung kemiskinan perkotaan dan daerah miskin lain yang masih berjibaku dengan kebutuhan mendasar, seperti ruang dan fasilitas belajar yang layak dan aman.

Dengan kompleksitas itu, gerakan literasi sekolah yang mengawal program membaca 15 menit setiap hari di sekolah terlihat seperti kebijakan yang utopis. Bagaimana mungkin sekolah menyediakan ragam bacaan bagi guru dan siswa membaca setiap hari apabila sekolah masih berkutat dengan banyak permasalahan mendasar lainnya?

Data statistik menunjukkan hanya 5,7% sekolah di Indonesia–dari jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas– yang memiliki perpustakaan. Itu pun dengan kondisi yang bervariasi; dari kondisi ruangan yang kurang memadai, koleksi yang hanya terdiri atas buku-buku teks pelajaran, hingga tiadanya tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan.

Selain itu, penggunaan 5% dana bantuan operasional sekolah (BOS) masih berfokus pada pengadaan buku teks pelajaran dan bukan pada buku bacaan yang mampu menumbuhkan minat baca siswa. Fenomena itu menunjukkan penguatan budaya literasi di sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan guru, melainkan juga tanggung jawab seluruh elemen publik sebagai ‘pengasuh’ anak dalam ruang komunal. Dukungan ini menjadi penting karena Indonesia tengah mengalami darurat literasi. Minat baca siswa perlu ditumbuhkan agar mereka mencintai pengetahuan.

Kemampuan membaca siswa perlu ditingkatkan bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan siswa Indonesia yang terpuruk pada peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes Programme of International Student Assessment (PISA); tapi juga untuk menjadikan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat. Meningkatkan kemampuan literasi siswa menjadi cara yang efektif untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Dukungan publik

Pelibatan publik dalam gerakan literasi sekolah perlu menjadi bagian penting dari visi dan misi sekolah. Praktik di banyak negara maju membuktikan reformasi pendidikan yang hanya mengintervensi siswa dan sekolah tidak akan berlanjut dalam jangka panjang.

Pelibatan publik dapat dilakukan melalui antara lain; program-program keayahbundaan (parenting), menyinergikan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, memperkuat komunikasi dan jejaring sekolah dengan pihak eksternal, menggalakkan program relawan, melibatkan elemen masyarakat dalam perencanaan kegiatan-kegiatan literasi sekolah, serta meningkatkan kolaborasi antarsekolah, alumni sekolah, dan komunitas pegiat literasi.

Program keayahbundaan bertujuan meningkatkan kapasitas orangtua sebagai figur teladan literasi. Rumah perlu menjadi lingkungan yang literat dengan figur orangtua dan anggota keluarga yang suka membacakan cerita, bercerita, membaca, berdiskusi dengan anak, dan mendengarkan pendapat mereka.

Selain itu, kebijakan pelibatan keluarga dalam sekolah anak perlu mendapatkan dukungan melalui kebijakan-kebijakan yang ramah keluarga. Misalnya, lembaga pemerintahan dan swasta perlu diimbau untuk memberikan izin khusus kepada orangtua yang bekerja untuk mengantar anak pada hari pertama tahun ajaran baru, menghadiri pertemuan-pertemuan orangtua, dan menjadi relawan dalam kegiatan-kegiatan sekolah.

Kesadaran akan pelibatan keluarga perlu menjadi semangat dalam perancangan kebijakan. Misalnya, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, program pelibatan publik dan keluarga menjadi salah satu kriteria agar dana pengembangan pendidikan yang diajukan sekolah dapat disetujui.

Sinergi kegiatan belajar di rumah dan di sekolah bertujuan mencari titik temu kegiatan belajar di rumah dan di sekolah. Sinergi bisa dilakukan dengan dua arah; siswa membawa pekerjaan sekolah untuk dikerjakan di rumah dengan dibantu orangtua, dan guru mengembangkan praktik baik di rumah untuk dilakukan di sekolah. Ini bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita atau menuliskan kegiatannya di rumah, atau orangtua diundang untuk bercerita dan menjadi relawan membaca di sekolah.

Praktik baik di rumah dapat dieksplorasi guru melalui kegiatan kunjungan ke rumah. Untuk menjalin komunikasi dengan keluarga dan pelaku bisnis serta komunitas pegiat literasi, kapasitas sekolah perlu ditingkatkan. Sekolah perlu menganalisis kebutuhan keluarga, minat, dan ide-ide mereka tentang pengembangan kegiatan literasi, serta mempertimbangkan kendala mereka dalam berpartisipasi di kegiatan sekolah.

Informasi ini perlu dipertimbangkan dalam menyusun program literasi sekolah. Pendidik perlu mampu berkomunikasi dengan efektif, memahami bahasa lokal, dan menghargai latar belakang budaya keluarga. Untuk melibatkan alumni, pelaku bisnis, dan komunitas pegiat literasi, sekolah perlu membangun sistem informasi tentang jejaring potensial dan selalu memublikasikan kegiatan literasi sekolah pada jejaring sosial.

Apabila perlu, sekolah dapat menugaskan liaison untuk menjalin relasi dengan pihak eksternal sekolah. Kebijakan pendidikan perlu lebih memotivasi sekolah untuk melibatkan keluarga dan publik secara lebih kreatif. Tentunya, upaya-upaya sinergis yang sudah berjalan perlu diapresiasi, dijadikan model, dan dikembangkan dengan lebih baik lagi. Gerakan literasi sekolah tidak akan berlangsung dengan efektif tanpa dukungan masif dari publik.

Sumber : Dikdasmen

Entri Aplikasi PMP Dikdasmen 2016

Dihimbau kepada seluruh Guru dan Siswa/i untuk dapat meluangkan waktunya (wajib) melakukan pengisian data Aplikasi Peningkatan Mutu Pendidikan (PMP) Dikdasmen Tahun 2016 yang akan dibimbing oleh Bapak Moerdjoko Nawantoko bersama Tim Dapodik. Khusus bagi siswa/i yang masih berada di DU/DI (PSG), pengisian dilakukan setelah selesai kegiatan PSG berakhir (kembali masuk sekolah). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Bapak Moerdjoko Nawantoko. Atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

aplikasi-pmp

Belajar Bahasa Inggris Melalui Bermain Peran

Bahasa Inggris bagi sebagian siswa masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, untuk itu ada metode yang bisa dipakai untuk membangun minat belajar bahasa Inggris siswa dengan cara bermain peran. Bermain peran yang dibahas di sini adalah pembelajaran bahasa Inggris dengan cara memerankan suatu karakter, di mana siswa akan mengucapkan dialog yang telah dipersiapkan sebelumnya ataupun hasil improvisasi. Cara ini akan memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih pengucapan (pronunciation), berlatih berani berbicara (speaking), berlatih mendengarkan (listening) ucapan lawan bicara. Dengan bermain peran ini pula, siswa dapat memperkaya kosa kata (vocabulary) dalam bahasa Inggris, serta menikmati suasana yang menyenangkan tanpa merasa terbebani oleh kesalahan pengucapan, karena biasanya seorang guru akan menempatkan dirinya sebagai teman diskusi, dan dalam pembelajaran akan terbangun suasana santai.

[advanced_iframe securitykey=”4d018e4b7a56ab5baf3f3d676640a65497f68aa3″ src=”https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=99&idmateri=166&mnu=Materi1″]

Kader Muhammadiyah Harus Miliki Niat Lurus Menghidupkan Organisasi

umarUpaya untuk mempertahankan sebuah organisasi membutuhkan kerja keras, karena bagaimana pun mempertahankan akan lebih sulit daripada menghidupkan ataupun mematikan.

Seperti dijelaskan Umar Abdul Rasyid, Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan dan mempertahankan suatu organisasi. Salah satunya yaitu dengan menyelenggarakan pengajian akbar secara aktif.

“Melalui pengajian akbar maka akan menarik banyak jama’ah untuk sama-sama berbuat kebaikan dan upaya tersebut merupakan salah satu cara untuk tetap menjunjung tinggi tujuan dakwah amar ma’ruf nahi munkar Muhammadiyah,” ucap Umar, Minggu (2/10) dalam acara Pengajian Akbar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tegal.

Kembali ditambahkan Umar, kader Muhammadiyah yang berkualitas dan kritis harus memiliki lima poin penting, yaitu memiliki niat yang lurus, mengerti akan tugas pokok, mengerti akan fungsi, mampu membuat target, dan strategi.

“Mempertahankan Muhammadiyah adalah tantangan kita semua, maka kader Muhammadiyah harus konsisten dan produktif,” tegas Umar.

Sementara itu, Syamsul Hadi, Ketua PDM Kabupaten Tegal, mengatakan, Muhammadiyah adalah tempat untuk memberi dan berjuang, maka setiap kader harus sanggup melepas kepentingan pribadi dan memprioritaskan kepentingan umat.

“Hidupilah Muhammadiyah, bukan hanya hidup di Muhammadiyah,” tutup Syamsul.

Sumber : Muhammadiyah

Program Penguatan Pendidikan Karakter Segera Diuji Coba

71576bdb69ce480Jakarta, Kemendikbud — Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) akan segera diuji coba akhir tahun 2016 ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sekolah ujicoba sudah ditetapkan, kajian akademik dan pedoman sudah selesai, sedangkan petunjuk pelaksanaan sedang dalam penyempurnaan.

“Sekolah uji coba sudah kita tetapkan. Sekitar 50 sekolah yang nanti akan kita uji coba di luar sekolah yang dengan suka rela menawarkan diri dan juga provinsi, kabupaten yang ingin menjadi tempat uji coba,” kata Muhadjir dalam rapat kerja dengan Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di Gedung DPD Jakarta, Senin (3/10/2016).

Jumlah sekolah uji coba akan ditambah tiap tahunnya. Tahun 2017 ditetapkan 1.626 sekolah uji coba, sedangkan tahun 2018 sebanyak 3.252 sekolah.

Mendikbud menambahkan bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo menetapkan porsi pendidikan karakter pada jenjang sekolah dasar (SD) sebesar 70% dari kurikulum inti, sedangkan pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 60%. “Itu menunjukkan betapa besar perhatian pemerintah terhadap pendidikan karakter pada level pendidikan dasar,” ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Ia juga menegaskan tidak ada perubahan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan Kurikulum 2013, karena implementasi kurikulum tersebut sedang berjalan. “Maka upaya kami adalah bagaimana menambah kandungan K-13 yang berlaku di pendidikan dasar dan menengah dalam bentuk kokurikuler. Itulah yang kemudian disebut Program Penguatan Pendidikan Karakter,” tambah Muhadjir.

Dalam kesempatan raker tersebut, anggota DPD dari Provinsi Bali I.G.N. Arya Wedakarna M. Wedasteraputra mendukung implementasi PPK di provinsinya. “Kami di Bali sangat mendukung program ini, seni dan budaya di Bali sangat mungkin diintegrasikan dengan program ini,” kata Arya Wedakarna.

Anggota Komite III yang lain berharap pemerintah menelaah lebih dalam, implementasi program PPK di daerah terpencil dan kepulauan yang sarana, prasarana, dan jumlah gurunya masih terbatas. “Untuk daerah kepulauan seperti daerah kami, Program PPK ini harus dikaji matang-matang. Banyak keterbatasan di sekolah-sekolah yang terpencil ini yang harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah,” ujar anggota DPD dari Provinsi Maluku, Novita Anakotta.
(Nur Widiyanto)

Sumber : Kemdikbud

Din Syamsuddin: Didik Anak dengan Cinta Bukan Kekerasan

din-syamsudinTanggung jawab mendidik anak terletak pada orang tua, bukan hanya sepenuhnya pada sekolah dan tempat anak-anak belajar. “Setiap orang tua wajib mendidik anak dengan penuh rasa cinta, bukan dengan kekerasan,” ucap Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Minggu (2/10) dalam acara Tabligh Akbar 1 Muharram yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, yang bertempat di Masjid Al-Akbar Surabaya dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, SyaifullahYusuf.

Din menyampaikan dalam ceramahnya bahwa saat ini bahaya yang mengancam Indonesia adalah runtuhnya keluarga. Runtuhnya keluarga tidak hanya sebatas pada kasus perceraian, melainkan banyaknya keluarga yang tidak berjalan sesuai dengan fungsinya.

“Banyak orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik dan benar, hal ini yang menjadi runtuhnya keutuhan sebuah keluarga,” tegas Din.

Din juga menyarankan kepada warga Muhammadiyah dalam mendidik anak, sebaiknya tidak seluruh anak dijadikan sebagai ustadz-ustadzah. Tetapi harus ada yang diarahkan untuk menjadi ahli teknologi, ahli ekonomi, insinyur, dan lain sebagainya.

“Kalau anak kita tidak ada yang menjadi dokter, siapa yang akan mengurus Rumah Sakit Muhammadiyah?,” terang Din.

Terlepas dari hal itu, Din juga mengajak kepada seluruh kader Muhammadiyah untuk bersama-sama merefleksikan diri dalam menyambut tahun baru Islam. “1 Muharram ini marilah kita jadikan refleksi diri dari tahun kemarin, dan harus menjadi lebih baik di hari selanjutnya,” tegas Din.

Sumber : Muhammadiyah

Program Sertifikasi Pendidik Dan Sertifikasi Keahlian Bagi Guru SMK (Alih Fungsi)

alihfungsigurusmkSalah satu arah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah meningkatkan kualitas pendidikan vokasi serta pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Presiden telah mengeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Melalui Inpres ini, Mendikbud diinstruksikan untuk meningkatkan jumlah dan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di SMK.

Menindaklanjuti Inpres tersebut dan dalam rangka penataan dan pemenuhan guru produktif di SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan perlu melakukan cara strategis pada tahun 2016, yaitu akan melaksanakan Program Sertifikasi Pendidik Dan Sertifikasi Keahlian Bagi Guru SMK/SMA atau yang dikenal dengan program Alih Fungsi. Dengan program alih fungsi guru tersebut, diharapkan dapat memenuhi kekurangan guru produktif di sekolah menengah kejuruan (SMK).

Program Alih Fungsi bertujuan:

  1. Untuk Meningkatkan kompetensi guru SMK dan SMA yang mengampu mata pelajaran adaptif untuk memperoleh kompetensi keahlian tambahan dan mampu menjadi guru mata pelajaran produktif di SMK.
  2. Memenuhi kebutuhan guru produktif di SMK khususnya untuk 4 bidang prioritas yaitu maritim/kelautan, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, serta teknologi dan rekayasa.

Manfaat :

  1. Guru memperoleh sertifikat pendidik dan sertifikat keahlian sesuai dengan kompetensi keahlian.
  2. Proses pembelajaran di SMK lebih optimal sesuai dengan prinsip profesionalisme dan kewirausahaan.
  3. Lulusan SMK mempunyai kompetensi yang sesuai dengan bidang keahlian sehingga mampu bersaing di dunia kerja terutama menghadapi MEA.

Sasaran :
Program sertifikasi pendidik dan sertifikasi keahlian bagi guru SMK/SMA (alih fungsi) pada tahun 2016-2017 diperuntukkan bagi 15.000 guru yang berasal dari guru SMK dan SMA.

Persyaratan Peserta :

  1. Usia maksimal antara 45 s.d 55 tahun sesuai dengan karakteristik kompetensi keahlian.
  2. Guru mata pelajaran yang diidentifikasi kelebihan guru, yaitu: guru SMK adaptif (PKn, Matematika, Seni Budaya, IPA, IPS, Kewirausahaan, dan KKPI); dan guru SMA (PPKn, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, Ekonomi, Bhs Asing Lain, Antropologi, TIK).
  3. Mengikuti tes minat dan bakat (khusus bidang seni/ekonomi kreatif)
  4. Mempunyai minat terhadap salah satu kompetensi pada program keahlian tertentu pada kelompok bidang keahlian :
  • Maritim
  • Pertanian
  • Pariwisata
  • Ekonomi Kreatif
  • Teknologi dan Rekayasa

Pendaftaran :

  1. Guru melakukan pendaftaran melalui laman http://alihfungsi.gtk.kemdikbud.go.id.
  2. Klik menu daftar pada kanan atas dari laman tersebut.
  3. Masukkan kode registrasi pada kotak isian, tandai pada kotak “saya bukan robot”, kemudian klik tombol daftar.
  4. Pada laman registrasi, masukkan alamat email dan password, kemudian klik tombol daftar.
  5. Baca petunjuk pendaftaran pada laman registrasi, untuk melakukan langkah berikutnya.

Sumber : DitPSMK

SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan Juarai Lomba Kreatifitas Siswa Se-Tapteng Tahun 2016

tim-lks-smk-muhammadiyah-11-sibuluan

Dengan mengunggulkan kreasi lampu hias dari batok kelapa, SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan akhirnya menjuarai Lomba Kreatifitas Siswa (LKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibidang karya kesenian dengan tema memanfatkan bahan bekas menjadi bisa berguna, tingkat Kabupaten Tapteng yang digelar di SMK Yayasan Pendidikan Taruna Yapim Pandan, pekan lalu.

“Ide itu tercipta berawal dari para siswa-siswa, lalu kita selaku pembimbing yang mengarahkan membuat model dan cara kerja pembuatannya,” ucap guru pembimbing dan pendamping, Khairul Syahdi kepada KedaiPena.Com, Senin (3/9).

Khairul mengatakan, para siswa memang mampu mengkreasikan ide tersebut semenarik mungkin. “Hasil karya siswa kita ini punya keunikan, mulai dari bahannya, ukiran di batok, serta kombinasi modelnya yang menarik,” ungkapnya.

Disebutkan, para siswa yang memenangi lomba yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapteng selama satu hari itu, yakni Muhammad Romy Lubis, Ruspandi Siregar dan Syabirin yang duduk di kelas X Teknik Sepeda Motor (TSM).

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan, Dedy Fahri S Sihotang mengaku bangga dan sangat mengapresiasi prestasi para siswanya itu.

“Alhamdulillah berkat kerja keras, kita berhasil juara pertama diajang ini. Ini merupakan suatu prestasi yang begitu menggembirakan. Saya juga sangat salut dan bangga, kepada ketiga siswa kita yang telah mengharumkan nama baik sekolah, sebab, mereka bisa bersaing dengan sekolah yang lain se-kabupaten Tapteng,” katanya

Ia berharap, kreatifitas yang diraih para siswa tersebut dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, prestasi itu membuktikan SMK Swasta Muhammadiyah 11 Sibuluan, merupakan sekolah yang berkualitas.

“Insya Allah kita akan selalu berjuang dan mendukung untuk nama baik sekolah. Harapan saya sebagai kepala sekolah, semoga di tahun depan kita bisa ke tingkat nasional, dan jurusan yang lain agar lebih giat untuk mempersiapkan kegiatan LKS di tahun depan,” katanya.

Sumber : Kedai Pena